0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Menyoal ibu kembali ke rumah, sebenarnya hanya isu turunan dari satu isu yang superduper krusial, yakni pengasuhan anak.

Peran ibu setelah mengandung dan melahirkan adalah menyusui hingga menyapihnya di usia 30 bulan atau 2 tahun.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.” (QS Luqman [31]: 14).

Setelah itu, sama-sama kita ketahui bahwa usia 0-5 tahun adalah masa emas anak-anak kita. Suatu masa yang akan menjadi pondasi, dimana berbagai hal fundamental akan kita didikkan. Sebut saja misalnya, penanaman aqidah, mengenal Allah, Rasul dan berbagai ciptaan-Nya, berkenalan dengan berbagai adab suatu perilaku, membiasakannya, dan sebagainya.

Jika kita menengok sejarah, akan sulit kita temui ibu-ibu ummahatul mukminin yang mendidik anak-anak kecil mereka secara paruh waktu. Saya pribadi sangat berharap saya akan mendapat suatu sosok yang menjadi pembenaran bahwa saya bisa melakukan banyak hal di luar rumah, di samping tugas utama saya dalam mendidik anak-anak. Katakanlah bahwa saya ingin sekali bisa berbuat banyak untuk ummat, mengajar, berbisnis, bekerja di kantoran dsb. Toh semuanya kembali pada peran sosial saya sebagai daiyah, atau mempersembahkan sesuatu pada umat ini. Meski tak keluar rumah secara intens, saya pribadi melakukan aktivitas selain mendidik anak, yakni bisnis online dari rumah, dan kemudian mencari-cari dasar (agar) pekerjaan saya ini didukung oleh hujjah sejarah. Maka saya pun bertanya pada ahli mengenai hal ini.

Jawaban apa yang saya dapat?

“Sesampainya di Madinah, Ummu Salamah ra tekun mendidik anak-anaknya yang masih kecil, sedangkan suaminya selalu mencurahkan waktunya untuk turut berjuang dalam pertempuran-pertempuran Islam.

Begitu juga dengan Khadijah binti Khuwailid ra. Ustadz Herfi, salah satu ahli tafsir yang dikenal sering membahas tafsir dan kisah secara mendalam, mengungkapkan bahwa setelah menikah dengan Rasulullah Muhammad saw, ia melepaskan semua bisnisnya dan mempercayakan pada suaminya, dan fokus mendidik anak-anaknya di rumah.

Bagaimana dengan Aisyah ra? Bukankah ia adalah salah satu mahaguru yang dikenal merawikan lebih dari 6.000 hadits Rasulullah?

Yap. Aisyah ra bisa melakukan itu semua dan sangat-sangat optimal di situ karena ia dikaruniai kecerdasan, dan, tidak memiliki keturunan sehingga bisa fokus pada proses belajar-mengajar bersama para sahabat.

Jadi apakah saya mendapatkan hujjah yang saya inginkan?

Sayangnya, saya rasa tidak.

Ustadz Budi Ashari kemudian menyentil saya untuk kembali membaca sejarah dengan utuh, lengkap dan sempurna. Tak boleh sepotong-sepotong, memenggal konteks demi konteks, untuk mendapatkan dukungan atas pendapat kita yang bisa jadi penuh dengan ego. Beliau sungguh sedih melihat banyak perempuan berlelah-lelah mengantri di halte busway, berdesak-desak dalam kendaraan umum, berangkat pagi-pulang petang atau bahkan malam, hanya untuk mencari penghasilan atau aktualisasi diri mereka. Apa yang Anda cari, begitu ujar beliau. Surga ada di hadapanmu, Ibu. Di rumah di mana anak-anak membutuhkan sentuhanmu, membutuhkan pengarahan dan didikanmu secara langsung melalui lisan dan sosokmu secara fisik.

Adalah sulit sekali, menurut beberapa ahli parenting yang saya simak, jika kita mengatakan bahwa waktu berkualitas adalah yang terpenting. Karena kualitas tentu saja mutlak membutuhkan kuantitas, meski kuantitas yang banyak tidak serta-merta menjamin kualitas yang baik.

Meski demikian tentu realita tidaklah semanis idealita. Ada banyak keluarga yang diuji dengan keterbatasan harta sehingga memaksa para istri membantu para suami dalam mencari tambahan nafkah. Ada banyak suami tak bertanggung jawab yang kemudian membuat istri-istri mereka terpaksa menelan pil pahit untuk kemudian menjadi tulang punggung keluarga. Maka dengan pertimbangan realita ini ustadz Herfi kemudian menambahkan dengan bijak, tidak apa jika istri kemudian bekerja untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan keluarga. Boleh-boleh saja istri berkarya untuk memenuhi ruang aktualisasi diri mereka (hal senada yang juga disampaikan oleh Ustadz Budi). Asalkan, amanah utama sudah tunai dengan baik dan suami mengijinkannya.

Sekarang pertanyaan berikutnya adalah, apakah amanah kita saat beraktualisasi itu sudah tertunaikan dengan baik? Ataukah bekerja di luar rumah hanyalah bagian dari pelarian atas kepenatan kita mendidik anak-anak, yang sejatinya di situlah ujian menjadi ibu? Apakah benar niat kita sudah lurus ketika melangkahkah kaki ke luar rumah meninggalkan anak-anak kita? Apakah pendidikan atas aqidah mereka, jika didelegasi, sudah benar-benar tepat disampaikan? Bagaimana dengan pendidikan adabnya, apakah optimal kita ajarkan?

Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya saya tujukan untuk saya pribadi, betapa sering saya mengeluh pada suami bahwa saya penat mengurus anak. Bahwa saya lelah dan ingin sekali-kali bekerja, menghasilkan uang yang bisa saya gunakan sesuka hati. Mendidik anak itu saya rasakan sangat menguras energi, emosi serta menguji keimanan dan kesabaran. Bukankah wajar jika saya ingin sedikit saja bersenang-senang? Bukankah ibu yang bahagia adalah cikal-bakal tumbuhnya anak-anak yang juga bahagia? Jadi boleh dong kalau ibu mencari cara agar bahagia, demi tertunaikannya amanah dengan baik dan lancar…

Wahai ibu, wahai diriku yang lemah,

Seringkali saya mencari bahagia dari luar… mencari cara agar saya bisa bersenang-senang. Setelah itu saya merasa energized, terisi lagi untuk kemudian bisa mengerjakan pengasuhan anak dan segala tetek bengek rumah tangga dengan lebih bersemangat. Namun saya lupa sekali mencari kebahagiaan dari dalam. Bahwa bahagia saya yang utama ternyata adalah melihat anak-anak saya tumbuh setiap harinya. Bahagia saya adalah melihat mereka mampu mengenal Allah, dan disitu ada kontribusi saya untuk mereka. Bahagia saya ternyata melihat mereka antusias menikmati lauk-pauk yang saya buat dalam lelah dan keringat. Bahagia saya adalah setiap hari menyaksikan kakak dan adik bertengkar, menangis, berteriak, sementara saya tetap bisa mawas dan waras untuk menghadapinya dengan tenang. Ya, saya berhasil menaklukkan nafsu amarah, dan itu adalah prestasi luar biasa. Saya berhasil tidak marah saat mereka berulang-ulang memberantakkan setiap yang sudah tertata rapi, dan itu adalah performance yang luar biasa di saat tekanan untuk melakukan itu terasa wajar dan sah-sah saja.

Dan me time, tentu saja tetap menjadi hal penting untuk kita lakukan. Jeda, bagaimanapun dibutuhkan agar kita bisa menarik nafas, memberi ruang untuk kita beristirahat. Tetapi lagi-lagi me time -seperti banyak teman saya contohkan- bisa dilakukan dengan berbagai cara yang tak harus meninggalkan rumah/situasi penyebab stres. Apa jadinya jika kita menuntut me time yang harus meninggalkan rumah, pergi ke salon, mall dsb, sementara uang tak ada, dan berbagai hal membuat kita tidak bisa melakukannya? Tentu kita akan semakin tertekan dan terjebak dalam situasi mengasihani diri yang hanya akan memperburuk keadaan.

Ah, ini lagi-lagi saya bicara untuk diri sendiri. Seharusnya saya bisa lebih menyederhanakan makna me time, makna bahagia, makna “happy mom raises happy kids” dan bukan mencarinya dalam pembenaran2 untuk keluar rumah padahal apa yang menjadi tugas utama belum jua tertunaikan dengan baik. Jikapun saya harus pergi meninggalkan anak-anak, maka saya harus benar-benar mendelegasikannya pada orang-orang yang amanah, yang tahu detil demi detil apa yang harus dididikkan pada mereka sementara saya pergi, bukan sekadar bisa menyediakan makanan unuk mereka, menemani tidur siang dan sebagainya.

Pun demikian, tetap saja pertanyaan itu akan ditujukan pada saya suatu saat.. apakah saya sudah benar-benar mengoptimalkan masa-masa emas mereka di 5 tahun pertama. Kemudian apakah saya sudah benar-benar mendidik mereka dalam teladan dan mauizhah hasanah di 5 tahun kedua, saat di usia 10 tahunnya Nabi mengijinkan kita untuk memukulnya apabila ia tak juga menunaikan shalat. Juga di usia-usia selanjutnya saat amanah pendidikan anak itu masih terpanggul di pundah saya. Rasanya tak pernah ada yang sempurna segala yang sudah saya lakukan untuk anak-anak di rumah… masih banyak yang harus ditambal di sana-sini, diperbaiki, dijaga, diupgrade, teruuuuus seperti itu tak pernah menjadi selesai…

Maka Ibu, juga diriku yang tengah berjuang seterusnya,

Kembalilah ke rumah. Dengan segenap jiwa. Dengan sepenuh asa menciptakan generasi terbaik sepeninggal kita kelak. Akan ada masa dimana waktu kita teralokasi lebih banyak bagi umat nanti. Akan ada waktunya, mungkin saat mereka sibuk sekolah, dan kita bisa menyambi banyak hal yang bermanfaat. Mudah-mudahan segala yang menjadi keletihan kita, terhambatnya perkembangan diri kita, terkungkungnya kebebasan kita untuk melakukan berbagai keinginan, menjadi catatan kebaikan yang berbalas surga. Mudah-mudahan kita terlindungi dari amarah, keegoisan,  juga berbagai tarikan-tarikan yang menjauhkan kita dari amanah utama, yang membuat kita lupa dan terlalaikan. Naudzubillah.

Tulisan ini buat saya pribadi terutama, yang tengah berjuang meluruskan niat saat harus menapak pergi ke luar rumah. Yang masih kesulitan mengendalikan diri saat dilingkupi emosi negatif waktu berhadapan dengan anak-anak. Yang masih bersusah payah mengenali makna aktualisasi diri, yang sesungguhnya perlu direview kembali. Yang masih berusaha mencerna sekuat tenaga, peran utama apa yang seharusnya kita aktualkan diri di sana, bukan mencari-cari apalagi berdalih di balik peran sosial yang juga perlu kita tunaikan.

Kembali ke rumah mensyaratkan kita untuk sama belajar, banyak membaca, berdiskusi dengan rekan, memaknai kesabaran, mengeja keletihan, dan tentu menjaga lurusnya niat. Setiap kita hanyalah kumpulan keluh kesah sebagaimana ia dicipta, dan karenanya kita berjuang sekuat tenaga untuk membalikkan diri agar lebih bersabar, juga bersyukur setiap saatnya. Menjadi ibu yang kembali, sungguhlah tidak ringan. Namun bukan berarti ia tak mungkin, karena setiap tugas tentulah dibersamai dengan kesanggupan untuk menunaikannya.

Dan kepada para Ibu bekerja, semoga Allah merahmatimu selalu. Sungguh iri menyaksikanmu berjibaku dengan tantangan yang jauh lebih beragam. Mudah-mudahan Allah beri kekuatan bagimu untuk menyusuri setiap detik kehidupan. Mudah-mudahan Allah membukakan kemudahan agar terus leluasa bercengkrama sekeluarga.  Mudah-mudahan anak-anakmu memahami bahwa ibu selalu berjuang memberikan yang terbaik bagi mereka, meski tak selalu bisa bersama. Mengusahakan yang terbaik, mencari cara untuk mendidik dengan baik di tengah amanah lain, dan terus belajar menjadi yang terbaik di tengah berbagai peran, atas semua itu semoga Allah memberi sebaik-baik balasan. Percayalah di balik semua prestasimu yang gemerlap di luar sana, ada suami dan anak-anak yang mendukungmu sepenuh cinta. Percayalah bahwa keinginan mereka hanyalah sesederhana makan bersama, berceloteh ini-itu dan melewatkan waktu tanpa berpisah raga. Dan untuk semua itu, semoga kita bisa memastikan segala yang terjadi di luar rumah benar-benar berharga lagi setimpal dengan apa yang ditinggalkan. Allaahu yubaarik fikum.

Smoga Allah mengampuni yang khilaf dan tersalah. Semoga Allah menuntun kita semua menjalani setiap peran dengan seimbang, utamanya agar kelak meninggalkan generasi yang gemilang.

Wallahu a’lam bishshowab.(*)

Sumber : Mommee.or.id

Agen Resmi Elmina
%d bloggers like this: