Kalau dibagian sebelumnya kita mengenal banyak ragam suami, maka pada bagian ini kita pun akan mengenal beberapa tipe istri. Istri juga banyak tipenya, banyak ragamnya. Mengenal berbagai tipe wanita ini penting untuk setiap wanita untuk mengetahui termasuk tipe yang mana dirinya. Bagi suami perlu untuk mengetahui tipe yang manakah istrinya. Sementara bagi yang masih sendiri perlu untuk pengetahuan tipe yang mana akan dia pilih untuk menjadi istrinya kelak.

Ada 11 tipe yang didasarkan pada Al-qur’an, sunnah serta kisah-kisah yang tercatat dalam sirah. 11 tipe istri tersebut adalah :

Tipe Pertama : Penyayang Anak dan Suami

Suami mana yang tidak menginginkan istri yang penyayang ? Anak mana yang tidak mendambakan ibu yang penyayang ? Tentu semua mengidamkannya. Jika anda Allah pertemukan dengan istri tipe ini bersyukurlah pada Allah Swt. Sebab, kebahagiaan dunia sudah anda raih. Rasulullah Saw pun menyanjung wanita yang memiliki kasih sayang pada anak dan suaminya. Beliau bersabda :

“Wanita yang paling baik yaitu yang pandai mengendarai unta. Wanita Quraisy yang terbaik yaitu yang besar kasih sayangnya kepada anak kecil, pandai memelihara (harta) dan melayani suaminya, serta pandai membelanjakan harta suaminya yang sedikit”
(H.r.Ahmad dan bukhari)

Wanita yang pada mengendalikan unta adalah kiasan untuk wanita yang mampu mengendalikan berbagai kondisi dalam keluarganya. Dalam membina rumah tangga istri paling dominan menentukan dan menciptakan suasana kehidupan keluarga yang harmonis dan penuh kebahagiaan, sedangkan di dalamnya terdiri dari suami dan anak-anak yang memerlukan penangangan yang berbeda. Istri yang dikiaskan pandai mengendarai unta adalah yang mampu menciptakan kondisi tenang dan penuh bahagia dalam keluarganya.

Selanjutnya dalam hadits di atas Rasulullah menjelaskan wanita yang terbaik adalah yang besar kasih sayangnya kepada anak kecil. Fitrahnya seorang wanita tentu menjadi ibu, yang mengandung, melahirkan, merawat dan mendidik anak-anaknya. Jika dalam dirinya tidak terdapat cinta kasih tentu ia tidak bisa menjalankan perannya sebagai seorang ibu dengan maksimal. Banyak kita lihat para ibu yang tidak memiliki kasih sayang yang besar pada anaknya, mereka memilih meninggalkan anaknya bersama pembantu, membentak dan memarahi anaknya, dan juga sampai memukul anaknya.

Pandai memelihara harta, sebut Rasulullah Saw. Sebagai ibu rumah tangga seorang wanita tentu harus pandai dalam mengelola keuangan keluarga. Ia yang akan diamanahi oleh suaminya harta, baik itu belanja, simpanan anak-anak dan lain sebagainya. Istri yang pandai mengelola harta adalah bijak dalam berbelanja, saat diberi banyak ada yang disimpannya dan ketika diberi sedikit cukup baginya. Kita tentu bisa bayangkan betapa berbahayanya jika seorang istri boros, hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Yang menjadi tertekan adalah suaminya.

Istri dengan tipe penyayang juga pandai dalam melayani suaminya. Ia pandai membahagiakan suaminya seperti menyiapkan makanan yang lezat, menyiapkan pakaian yang rapi, mendampingi suami baik dalam keadaan lapang maupun sempit dan juga melayani kebutuhan biologis suami di ranjang.

Suami yang mendapatkan istri yang penyayang seperti ini tentu akan sangat bergembira, ini akan menjadi anugerah kehidupan baginya. Bagi yang belum menikah, siapkanlah diri untuk bisa menemukan istri yang penyayang pada anak dan istrinya.

Tipe Kedua : Penyabar

Asiyah namanya, ia adalah wanita beriman, taat dan juga penyabar. Dirinya disebut dalam Al-qur’an sebagai inspirasi dan teladan bagi wanita beriman.

“Dan Allah menjadikan istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman ketika ia berkata : ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya; dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim’”
(Q.s.at-Tahrim : 11)

Rasulullah Saw juga bersabda tentang wanita penyabar ini, Asiyah.

“…dan seorang istri yang bersabar menghadapi keburukan akhlak suaminya, Allah akan memberikan kepadanya pahala seperti yang Allah berikan kepada Asiyah, istri Fir’aun”
(H.r.Imam Samarqindi)

Ustadz Muhammad Thalib memberi penjelasan, “Orang yang sabar adalah orang yang tahan menghadapi segala cobaan, tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, dan tidak mudah patah hati. Ayat di atas berkisah tentang istri Fir’aun yang bernama Asiyah. Ketika Musa As menyatakan dirinya sebagai Rasul Allah dan membuktikan kebenaran pengakuannya dengan mengalahkan tukang-tukang sihir Fir’aun, secara diam-diam Asiyah beriman kepada Musa. Mengetahui bahwa istrinya beriman kepada Musa, Fir’aun kemudian melakukan berbagai tekanan dan penyiksaan kepada istrinya hingga ia dijemur di bawah terik matahari. Kekejaman suaminya dihadapi oleh Asiyah dengan sikap sabar dan pasrah kepada Allah. Ia tidak menunjukkan rasa permusuhan dan kebencian kepada suaminya, tetapi selalu mengingatkan suaminya untuk beriman kepada Musa. Kekejaman dan penyiksaan Fir’aun ini dilakukan sampai Asiyah meninggal dunia.

Pada ayat di atas diterangkan bahwa Asiyah memohon kepada Allah agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang mendapat balasan kenikmatan di surga dan diselamatkan dari kekafiran Fir’aun dan kaumnya yang berlaku zhalim. Kezaliman Fir’aun dan kaumnya ialah tindakannya mengingkari kerasulan Musa dan menyiksa para pengikutnya.

Dalam berumah tangga tidak jarang seorang istri mendapati prilaku suami buruk bahkan kejam. Menghadapi keburukan akhlak dan kekejaman suami mungkin ada istri yang melakukan kekerasan atau meminta cerai atau mengadukan kelakuan buruk suaminya kepada keluarga, sehingga mereka turun tangan.

Istri yang penyabar adalah anugerah terindah dari Allah Swt. Jika anda seorang suami dan Allah pertemukan dengan istri yang penyabar syukurilah dengan cara memperlakukannya dengan sebaik-baiknya perlakuan. Bahagiakan ia dengan sebaik-baiknya cara membahagiakan. Ada banyak keuntungan yang akan didapat oleh seorang suami jika mendapat istri penyabar.

  1. Kehormatan suami terjaga di mata orang lain karena kepandaian istri menampakkan citra keluarga serba baik di hadapan orang lain dan kegembiraan keluarga, sehingga oleh orang sekitar dinilai sebagai keluarga yang baik dan sopan.
  2. Suami akan merasakan ketenangan dan ketentraman karena segala kekurangannya dihadapi oleh istri dengan senyum dan senang hati.
  3. Keutuhan rumah tangga terjamin dan perkembangan mental dan fisik anak-anak terpelihara, sehingga keluarga dapat mempertahankan kelanggengannya sampai saat yang ditentukan oleh Allah.
  4. Suami tidak merasa selalu diburu-buru kepentingan yang tidak semestinya dipenuhi, misalnya tuntutan istri yang berlebihan karena terdorong oleh persaingan dengan tetangga atau temannya.

Bagi anda para wanita, berusahalah untuk menjadi istri penyabar, istri yang memberi ketenangan pada suaminya. Sehingga suaminya akan selalu ridho padanya. Dan, tentu anda masih ingat kalau bagi seorang istri untuk masuk surga cukup dengan melaksanakan perintah Allah dan patuh pada suaminya. InsyaAllah dengan keridhoan suami, surga terasa semakin dekat.

Tipe ketiga : Senang bermewah-mewah

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu: ‘Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, marilah kuberikan kepadamu mut’ah (pesangon) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaranyamu pahala yang besar.’”
(Q.s.al-Ahzab : 28-29)

Ayat diatas diserukan kepada Nabi Saw. agar menyampaikan sikap tegas dalam menghadapi para istrinya yang bermaksud meminta sedikit kelebihan harta. Karena perilaku istri-istrinya ini, Rasulullah Saw. lalu mengurung diri dan tidak mau keluar, sehingga para shahabat menjadi bingung. Keadaan ini berjalan beberapa hari (dalam suatu riwayat disebutkan selama satu bulan). Keadaan ini menyebabkan Umar dan Abu Bakar mengambil inisiatif untuk menyelidiki sebab-sebabnya.

Umar datang kepada Hafsah, putrinya yang menjadi istri Rasululllah, dan menyampaikan peringatan kepadanya agar tidak melakukan perbuatan macam-macam yang dapat meresahkan hati Rasulullah Saw. atau tidak menyampaikan permintaan-permintaan yang tidak selayaknya kepada Rasulullah sehingga memberatkan pikiran beliau. Hal serupa dilakukan oleh Abu Bakar kepada putrinya, yaitu Aisyah, yang juga menjadi istri Rasulullah Saw., bahkan ia memperingatkannnya seperti yang dilakukan Umar kepada Hafsah.

Kedua sahabat tersebut akhinya sepakat untuk menemui Rasulullah Saw. Mereka datang ke rumah Rasulullah dan meminta izin untuk berbicara dengan beliau. Semula Rasulullah menolak bertemu dengan mereka. Beberapa saat kemudian beliau memberikan izin kepada mereka untuk masuk ke rumahnya. Keduanya mendapati Rasulullah tengah duduk dikelilingi oleh istri-istrinya.

Diketahui bahwa para istri Rasulullah Saw menyampaikan permintaan untuk mendapatkan bagian dari harta rampasan perang yang menjad hak Rasulullah: “Wahai Rasulullah, sekiranya anak istriku ini (Hafsah) menuntut belanja, tentu akan kupenggal lehernya.” Mendengar itu Rasulullah Saw tersenyum, kemudian berkata : “Mereka yang ada disekelilingku ini meminta belanja kepadaku.” Abu Bakar pun kemudian menghampiri Aisyah dengan maksud hendak memukulnya. Abu Bakar dan Umar lalu menasihati putri-putrinya, ujarnya: “Kamu meminta sesuatu yang tidak ada pada Rasulullah Saw”

Allah lalu menurunkan ayat di atas dengan perintah agar Rasulullah Saw. Menyampaikan sikap tegas kepada istrinya apakah mereka memilih tetap menuntut harta duniawi ataukah hidup sebagai istri Rasulullah dalam keadaan serba kekurangan. Rasulullah mengajukan pertanyaan tersebut kepada istri-istrinya dan yang pertama-tama ditanya adalah Aisyah. Aisyah diminta oleh Rasulullah untuk menetapkan pilihan dan sebelum menjatuhkan keputusan ia diminta datang kepada keluarganya untuk bermusyawarah. Ternyata Aisyah menjawab : “Apa yang harus saya pilih?” Rasulullah membacakan ayat di atas. Aisyah menjawab : “Apakah urusan yang berkenaan dengan tuan harus saya musyawarahkan dengan ibu bapak saya, padahal saya telah menjatuhkan pilihan untuk memilih Allah dan Rasulnya ?

Rasulullah Saw pun mengingatkan para wanita, agar tidak berlaku zhalim pada suaminya, tidak meminta sesuatu di luar batas kesanggupannya.

Rasulullah Saw bersabda : “…dan seorang istri yang berlaku zalim kepada suaminya dan membebani suami di luar kesanggupannya serta menyakiti dirinya, maka malaikat rahmayt dan malaikat azab akan mengutuknya” (H.r. Imam Samarqindi)

Melalui sabdanya itu Rasulullah Saw mengingatkan para istri agar tidak mengikuti nafsu duniawinya, hingga akhirnya berbuat zalim pada suami. Sebab, jika seorang istri terlalu memaksakan suaminya untuk memenuhi keinginannya, tetapi ia tidak memiliki kesanggupan tentu akan memaksa para suami melakukan apa saja termasuk hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam.

Ketika telah menikah, maka saat itu jodoh sudah menjadi takdir Allah untuk kita. Maka jika anda ditakdirkan mendapatkan istri dengan tipe senang bermewah-mewah tentu anda tidak lantas lansung menceraikannya. Itulah adalah istri anda, baik dan buruknya menjadi tanggung jawab anda. Maka lakukanlah upaya-upaya untuk mengubah kebiasaan buruknya, senang-senang bermewah-mewah. Berikut adalah beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mengubah kebiasaan buruk sang istri.

  1. Berdo’a pada Allah Swt sang pemilik hati, jiwa dan pikiran untuk mengubah hati dan pikirannya.Mengubah kebiasaannya.
  2. Menanamkan pendidikan agama dan akhlak kepada istri
  3. Memberikan nasihat pada istri tentang dampak buruk dari prilaku bermewah-mewah
  4. Meminta bantuan orang yang dekat dan dipercaya oleh istri untuk menasehatinya.
  5. Mengajak istri secara bertahap membiasakan hidup secara sederhana.
  6. Menceraikannya, ini dilakukan apabila istri benar-benar tidak bisa dirubah. Sementara prilaku dan kebiasaannya sudah sangat keterlaluan, merugikan dan menzhalimi suami serta juga anak-anaknya. Tetapi anda mempertimbangkan dengan sangat matang apakah benar akan mengambil keputusan ini atau tidak.

Tipe keempat : Pencemburu

Benar, cemburu itu tandanya cinta. Tetapi jika berlebihan tentu menjadi tidak baik. Secara bahasa cemburu bermakna perasaan tidak senang kepada orang lain yang dinilai mengakibatkan dirinya tersisih atau kehilangan berbagai hak privasi (hak dirinya) yang didapanya selama ini karena kehadiran orang lain. Cemburu biasanya disertai dengan rasa curiga terhadap seseorang yang dinilainya merusak kesenangan dan kebaikannya.

Rasulullah Saw pun pernah beberapa kali dicemburui oleh istrinya, dan Rasulullah Saw mengalama kekeliruan dalam merespon sikap cemburunya para istri hingga turunlah Ayat untuk Rasulullah Saw. Ayat tersebut tersurat dalam Al-qur’an surah at-Tahrim ayat  pertama :

“Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang telah Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Adapun peristiwa yang melatar belakangi turunnya ayat di atas adalah :

  1. Peristiwa cemburunya Hafsah atas Mariyah Qibtiyah

Pada suatu hari Rasulullah Saw. membawa Mariyah Qibtiyah, seorang hamba sahaya Rasulullah, yang dijadikannya sebagai istri ke rumah Hafsah, salah seorang istri beliau juga. Sesampai Rasulullah Saw. dan Mariyah berada di rumah Hafsah, Hafsah sedang tidak ada di rumah. Ketika Hafsah tiba, dia terkejut karena di dalam rumahnya telah ada Rasulullah bersama Mariyah. Hafsah menunjukkan rasa tidak senangnya kepada Rasulullah Saw. Hafsah menunjukkan rasa tidak senangnya. Kepada Rasulullah Saw. Hafsah berkata : “Wahai Rasulullah, mengapa engkau lakukan ini di rumahku, tidak di tempat istrimu yang lain?” Rasulullah Saw kemudian menjawab: “Aku haramkan dia untuk kusentuh. Hal ini jangan engkau bicarakan kepada orang lain.” Namun, Hafsah kemudian keluar menemui Aisyah dan menceritakan kejadian tersebut. Allah kemudian menurunkan ayat ini sebagai teguran bagi Rasulullah Saw. yang telah mengharamkan perbuatan yang dihalalkan.

  1. Peristiwa Cemburunya Aisyah dan Hafsah kepada Saudah binti Jam’ah

Dikisahkan bahwa Rasulullah Saw. pergi ke rumah istrinya yang bernama Saudah binti Jam’ah. Di rumah ini Rasulullah Saw. dibuatkan minuman madu. Rasulullah menyukai minuman madu yang disediakan oleh Saudah. Setelah minum Rasulullah pergi ke rumah Aisyah. Setiba di rumah Aisyah, Aisyah menyambutnya dengan kata-kata : “Aku menciummu bau maghafir (minuman bercampur madu yang enak rasanya, tetapi baunya tidak enak).” Rasulullah Saw kemudian pergi ke rumah Hafsah dan Hafsah pun menyambutnya dengan ucapan seperti yang dikatakan oleh Aisyah. Rasulullah Saw menjawab :

“Barangkali bau itu berasal dari minuman yang saya minum di rumah Saudah. Demi Allah, saya tidak akan meminum minuman itu lagi,” lalu turunlah ayat di atas.

  1. Peristiwa cemburunya Aisyah kepada Ummu Salamah

Diriwayatkan dari Ummu Salamah, ujarnya : “Ketika aku mempunyai madu putih yang kusimpan dalam suatu tempat, Rasulullah mencicipinya, karena beliau gemar meminum madu. Ketika Aisyah didatangi oleh Rasulullah, ia menyambutnya dengan mengatakan : ‘Barangkali madu yang tuan minum itu dari tawon yang menghisap buah arfath (buah manis berbau busuk).’ Mendengar ucapan Aisyah seperti itu, Rasulullah mengharamkan minuman tersebut untuk dirinya.”

Sikap Rasulullah Saw. menghalalkan sesuatu yang dihalalkan demi menyenangkan dan memuaskan hati Hafsah dan Aisyah tidak patut beliau lakukan. Oleh karena itu, Allah menurunkan wahyu kepada beliau untuk tidak mengharamkan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah dengan alasan apapun.

Terkadang kecemburuan istrinya tidak hanya pada madunya, namun juga pada wanita yang berkomunikasi dengan suaminya. Padahal jika diteliti yang dikomunikasikan hanya urusan pekerjaan. Pada kasus lain, tak sedikit juga istri yang cemburu pada mertuanya, merasa cemburu saat suami menyayangi mertua. Atau juga anggota keluarga yang lainnya.

Cemburu tentu boleh-boleh saja, tetapi jika sudah berlebihan dan keterluan tentu perlu diingatkan dengan cara yang bijak.

Tipe kelima : Pengingkar kebaikan suami

Rasulullah Saw bersabda :

“Siapa pun istri yang berkata kepada suaminya: ‘Aku tidak pernah satu kali pun melihat kebaikanmu,’ niscaya kelak Allah akan menjauhkan dia dari rahmat-Nya pada hari kiamat”
(H.r.Imam Samarqindi)

Dalam riwayat lain Rasulullah juga bersabda.

“Allah Yang MahaBesar berkah-Nya lagi Mahatinggi tidak akan mau melihat seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya”
(H.r.Nasa’i, Bazzar, dan Hakim)

Istri pengingar kebaikan suami adalah istri yang tidak mau mengakui segala kebaikan yang diberikan suaminya. Atau dalam sesekali waktu ia melupakan kebaikan yang diberikan oleh suami. Istri tipe ini sulit menemukan kebaikan dalam diri suaminya, namun sangat pintar melihat celah kekurangan dan keburukan suami. Baginya suaminya adalah buruk, punya banyak kekurangan serta tidak bisa membahagiakannya. Istri dengan tipe ini juga penuntut pada suaminya, ia menuntut ini dan itu tanpa melihat serta tidak mau tau apakah suaminya mampu atau tidak.

Biasanya istri dengan tipe ini berasal dari keluarga kaya raya, yang apa maunya dituruti sejak dia kecil, orangtuanya selalu memanjakannya. Terbiasa hidup dalam kemewahan dan keberlimpahan. Sehingga saat menikah dia mengalama ‘shock’ ketika harus menemui kenyataan suaminya tidak mampu memberikan semua yang dia minta sebagaimana ayah ibunya dulu.

Istri dengan tipe ini juga ringan lidah mengata-ngatai dan menyalahkan suaminya. Tak jarang juga sampai menghina suami, lantaran sang suami tidak mampu mengikuti satu keinginannya. Karakternya adalah mau menang sendiri, tidak mau menerima keadaan, dan mengerti realita kehidupan rumah tangganya.

Ini menjadi catatan penting bagi suami, sebelum menikah agar bisa mengenali istrinya secara lebih mendalam termasuk juga bagaimana kehidupan calon istri sebelum menikah. Apakah dia terlalu dimanja oleh orangtuanya, apakah dia selalu diikuti keinginannya oleh orangtuanya dan seterusnya. Sebab, jika telah terlanjur menikah dengan wanita seperti ini akan menjadi ujian tersendiri bagi seorang suami.

Rasulullah Saw pun mengingatkan para wanita agar menjauhi sikap buruk ini, tidak bersyukur dan berterimakasih kepada suami. Sikap semacam ini sebenarnya bisa diubah menjadi yang lebih baik, tentu dengan syarat ada kesadaran serta kemauan yang kuat dari dalam diri pihak wanita itu.

Tipe Keenam : Mudah Tergoda Lelaki Lain

Dari kasus perselingkuhan yang terjadi tak sedikit juga yang diawali oleh para istri, istri yang mudah tertarik dengan lelaki lain, akhirnya berpacaran hingga melakukan aktivitas maksiat. Banyak hal bisa menjadi penyebabnya seperti tidak bahagia dengan suami, suami tidak memberi kepuasan lahir maupun batin padanya atau pernikahan yang dilakukan dengan terpaksa. Dia tidak mencintai suaminya, sehingga akhirnya ia memilih selingkuh dengan laki-laki yang dicintainya.

Tipe wanita seperti ini adalah wanita yang sulit menjaga dirinya ketika tidak bersama atau ditinggalkan oleh suami. Boleh dibilang ini adalah tipe wanita yang tidak setia. Sebagai seorang wanita tentu anda perlu menjauhi sikap dan prilaku buruk ini sejauh-jauhnya, dan bagi para suami jika mendapati istri semacam ini berupayalah semaksimal mungkin untuk bisa mengubah prilakunya.

Ada beberapa ikhtiar yang bisa dilakukan untuk membantu merubah istri dengan tipe ini.

  1. Evaluasi diri, suami harus mengevaluasi diri apa kira-kira yang menjadi sebab utama kenapa istrinya mudah tergoda laki-laki lain. Mungkinkah dia yang kurang memberi perhatian, kurang menanamkan ilmu agama pada istri, tidak memberikan kenyaman dan ketentraman pada istri dan jarang memberikan sikap lembut pada istri atau sebab-sebab lainnya.
  2. Bicara dari hati ke hati pada istri, tanyakan padanya kenapa dia melakukan perbuatan tercela tersebut, gali dan temukan penyebabnya.
  3. Beri dia penjelasan akan dampak buruknya ketika melakukan perbuatan itu.
  4. Tanamkan akidah dan akhlak islam dalam diri istri
  5. Beri ketegasan pada istri, minta dia untuk tidak melakukan perbuatan tercela itu lagi. Dan, jika dia masih melakukannya anda bisa memberi peringatan misalnya dengan menjatuhkan padanya talak.
  6. Berusaha dengan sebaik mungkin memberikan yang terbaik pada istri agar dia tidak mudah lagi berpaling pada laki-laki lain.
  7. Tidak memberi istri izin keluar rumah kecuali dalam keadaan yang sangat terpaksa
  8. Memberi istri peringatan agar tidak menerima tamu laki-laki saat suaminya tidak ada di rumah.
  9. Menyuruh istri ikut pengajian atau komunitas dimana banyak berkumpul wanita-wanita shaleha.

Tipe ketujuh : Tipe Penentang

Istri dengan tipe penentang adalah yang selalu menentang suaminya, ia memberi mengeraskan tekanan suara pada suaminya, istri dengan tipe ini cenderung menganggap enteng dan remeh suaminya. Kerugian mendapatkan istri dengan tipe ini adalah :

  1. Menghilangkan kewibawaan dan harga diri suami di depan istri dan juga keluarganya yang lain.
  2. Menghancurkan harga diri keluarga sekaligus membahayakan keselamatan keluarga jika sikap penentangan istri menyangkut keselamatan orang lain yang menjadi tanggung jawab suami.
  3. Menjadikan istri dikucilkan oleh keluarga atau masyarakat. Seandainya kelak dia bercerai dari suaminya, sulit baginya untuk mendapatkan suami yang baik.
  4. Menanamkan jiwa buruk pada anak-anaknya untuk tidak menghargai ayahnya.

Bagi suami, jika mendapati istrinya adalah seorang penentang maka bersabarlah, ingatkan secara baik-baik, jika membutuhkan sampaikan pada kerabat atau sahabat dekat istri untuk membantu mengingatkan.

Tentang istri yang penentang Rasulullah Saw mengingatkan dengan tegas sebuah ancaman melalui sabdanya dari Umar bin Khattab :

“Siapa pun wanita yang meninggikan suara terhadap suaminya, maka semua makhluk yang terkena sinar matahari akan mengutuknya”
(H.r.Imam Samarqindhi)

Tipe kedelapan : Gemar keluar rumah dengan bersolek

Allah Swt berfirman dalam surah Al-ahzab aya ke 33 mengingatkan para wanita agar tetap di rumah.

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah terdahulu; dan dirikanlah shalat; tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (Q.s.Al-Ahzab : 33)

Dan Rasulullah Saw pun juga bersabda :

“…dan seorang wanita yang tidak menutup dirinya dari lelaki lain serta keluar rumah dengan bersolek (dandanan yang menyala)..”
(H.r.Imam Samarqidi)

Sementara dalam hadits lain disampaikan

“Wanita-wanita yang gemar minta cerai dan wanita-wanita yang pesolek (di luar rumah) adalah wanita-wanita munafik” (H.r.Abu Nu’aim).

Kepada para lelaki pun Rasulullah Saw berwasiat :

“Wahai manusia, cegahlah istri-istri kamu memakai perhiasan-perhiasan (pakaian yang menyolok) dan wewangian ke masjid. Karena Bani Israil terdahulu tidak dikenai laknat sampai wanita-wanita mereka memakai pakaian-pakaian menyolok dan wewangian di masjid”
(H.r.Ibnu Majah)

Begitulah banyaknya hadits dan firman Allah Swt yang mengingatkan wanita agar tidak keluar rumah dan gemar bersolek. Wanita adalah perhiasan yang memiliki keindahan, terkadang keindahannya menyebabkan fitnah bagi laki-laki lain. Untuk itu hendaklah setiap wanita menjaga perhiasannya kecuali pada suaminya saja.

Menjaga diri dan menutup aurat dari laki-laki lain adalah ilmu dasar yang mesti dipahami dan diamalkan oleh setiap muslimah. Jika belum menikah ini menjadi tanggung jawab orangtua untuk mengingatkannya dan jika telah menikah menjadi kewajiban suami untuk membimbingnya.

Tipe Kesembilan : Pemalas

Pemalas adalah ketika seorang istri tidak mau mengerjakan segala tugasnya di rumah, malas merawat anaknya secara baik bahkan malas merawat dirinya sendiri. Rasulullah Saw menjelaskan sikap istri dengan tipe pemalas melalui hadisnya.

“…Seorang istri yang kesibukannya hanya makan, minum, dan tidur, tidak ada kemauan (malas) untuk shalat, tidak mau taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan suaminya”
(H.r.Imam Samarqindi)

Tugas pokok atau tanggung jawab istri adalah mengurus, mengatur, dan memelihara semua urusan rumah tangga, termasuk anak-anak dan yang menjadi milik suaminya. Dalam hal ini Rasulullah Saw.bersabda :

“…dan seorang istri menjadi pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya”
(H.r.Bukhari dan Muslim)

Mengingat ketetapan agama seperti dalam sabda Rasul di atas, seorang istri memiliki kewajiban mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, sekaligus mendidik dan mengasuh anak-anak yang didapat dari suaminya. Bahkan Al-qur’an pun menyebutkan bila istri telah mempunyai anak, ia bertanggung jawab untuk mengasuh dan menyusui sampai anak tersebut mencapai umur disapih. Semua ini membuktikan bahwa istri mempunyai kewajiban bekerja mengurus kepentingan suami, anak-anaknya, dan menjaga rumah tangga yang dipercayakan suami kepadanya. Itulah tugas dan kewajiban dari istri, jika ia lalai dan pemalas sementara suaminya bekerja di luar rumah tentu bisa dibayangkan seperti apa jadinya kondisi rumah tangga mereka. Berantakan.

Tipe Kesepuluh : Pengungkit pemberian kepada suami

Inilah tipe yang juga sangat buruk ada dalam diri istri, yaitu tidak ada keikhlasan pada suaminya. Ia selalu mengungkit dan menyebut-nyebut kebaikan yang telah diberikan pada suaminya.

Rasulullah Saw mengingatkan para wanita dengan tipe seperti ini lewat hadisnya :

“Sesungguhnya sekiranya seorang istri memiliki dunia ini seluruhnya dan ia berikan kepada suaminya, selang beberapa lama kemudian ia ungkit-ungkit, niscaya Allah akan gugurkan kebaikannya dan ia akan dikumpulkan menjadi satu dengan Qarun” (H.r.Imam Samarqindhi)

Mengungkit pemberian dilarang oleh Islam, tidak hanya pada suami atau keluarga bahkan kepada orang lain. Istri yang memiliki kebiasaan ini bisa menumbuhkan akhlak yang tidak baik. Oleh karena itu, seorang istri yang tahu kedudukannya di hadapan suami menurut agama tidak akan mengeluarkan ucapan-ucapan yang bisa menyakitkan hati, apalagi mengungkit harta yang diserahkan kepada suami sebagai orang yang harus dihormati dan dipatuhi.

Tipe kesebelas : Gemar minta cerai

Dari Tsauban, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda : “Seorang wanita yang meminta cerai dari suaminya tanpa suatu alasan yang sah diharamkan baginya mencium bau surga.” (H.r.Ahmad, Tirmidzi)

Diharamkan baginya mencium bau surga, itulah peringatan tegas untuk para wanita, agar tidak mudah mengucapkan permintaan cerai kepada suaminya. Ini adalah salah satu sifat tercela yang dimiliki oleh seorang istri. Kebanyakannya wanita yang gemar meminta cerai, gemar juga menikah kembali. Disinilah kita bisa lihat, wanita seperti ini tidak memiliki rasa kasih sayang dan juga tanggung jawab pada anak-anaknya. Ia lebih memilih untuk memperturutkan nafsu dan syahwatnya sendiri. Ia tidak peduli pada keluarga termasuk juga orangtuanya. Wanita dengan tipe ini secara tidak lansung tentu juga menjatuhkan harga diri keluarganya.

Banyak dampak buruk yang akan ditimbulkan oleh istri yang gemar minta cerai bagi suaminya, anaknya dan dirinya sendiri. Beberapa dari kerugian tersebut adalah :

  1. Wanita yang bersangkutan merasa gelisah karena selalu dirongrong oleh perasaan tidak puas karena adanya dorongan untuk berganti laki-laki.
  2. Setiap laki-laki yang akan menjadi suaminya tentu akan menjadi ragu-ragu pada dirinya
  3. Anak-anak yang dilahirkannya akan mengalami gangguan mental, karena keluarga yang tidak utuh dan juga sering bertukar ayah. Antar anak-anaknya pun akan muncul hubungan yang tidak baik, karena mereka berasal dari ayah yang berbeda – beda.

Itulah beberapa dampak buruknya, tentu masih ada dampak-dampak buruk lainnya.

Selasai sudah kita mengupas 11 tipe istri, sebagian besar pembahasan dari tulisan ini kami sarikan dari buku ensiklopedia keluarga sakinah karya Ustadz Muhammad Thalib. Besar harapan kami semoga pembahasan sederhana ini memberikan banyak manfaat bagi sahabat semua. Baik bagi yang sudah menikah sebagai inspirasi untuk berubah menjadi yang lebih baik lagi, maupun bagi yang belum menikah sebagai inspirasi dalam memilih pasangan.

Referensi : Buku Ensiklopedia Keluarga Sakinah karya Muhammad Thalib , Buku Jodohmu Dekat, Dia Ada Dalam Dirimu

Artikel Menarik Lainnya




comments

Artikel InspiratifMuslimah

Yuk hijrah menjadi seorang muslimah yang lebih baik dengan berlangganan newsletter kami. GRATIS!

Pendaftaran kamu berhasil! Setelah ini, kami akan meberitahukan berbagai artikel terbaru melalui email yang kamu daftarkan.