0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)

Kami yakin janji Allah SWT tentang syukur diatas sudah tidak asing lagi bagi kita, sering kita mendengarnya dipengajian, diberbagai majelis ta’lim, dibuku-buku dan mungkin janji Allah ini juga sudah sangat hafal sekali bagi kita. Bersyukur, mudahkah?, ternyata ketika kita lalui kehidupan sehari-hari tak mudah untuk bersyukur, mungkin asbab ini jugalah sampai Allah “menjanjikan” dan memberi “ancaman”  pada kita ketika bersyukur akan ditambah nikmat kita sementara jika kita mengingkari (tidak bersyukur) maka azab-NYA sangat pedih.

Syukur dan kehidupan, adalah satu hal yang tidak bisa dipisahkan, karena syukur adalah sebuah rasa yang mana disana kita mengakui, memuji serta mengagungkan kebesaran Allah SWT atas nikmat-nikmat yang dia berikan kepada kita. Dengan bersykur dada akan menjadi lapang, pikiran terasa terang dan hati terasa tenang. Sementara kufur atau kebalikannya adalah ketika merasa tidak puas dengan apa yang Allah berikan pada kita, merasa selalu kurang dengan yang dikaruniakan oleh Allah SWT pada kita. Sehingga efeknya adalah hati selalu risau dan gelisah, pikiran tak tenang, banyak berprasangka pada Allah jauh dari rasa bahagia.

Bersyukur adalah soal rasa, bersyukur adalah tentang penerimaan oleh jiwa dan hati atas apapun yang Allah karuniakan padanya. Bersyukur bukan tentang seberapa banyak dan besar nikmat-nikmat yang Allah berikan padanya, bersyukur juga tidak tentang keberlimpahan nikmat duniawi dan materi yang Allah kuasakan padanya, tapi ia adalah tentang sebuah rasa penerimaan apa adanya dengan lapang dada. Berapa banyak orang yang Allah kasih harta berlimpah, mobil dan rumah mewah tapi hatinya tak tenang, jiwanya tak tentram selalu gelisah. Akan tetapi tak sedikit juga orang-orang yang Allah uji dengan berbagai ujian yang berat seperti kemiskinan materi, kekurangan, susah jodohnya, sulit anaknya, sakit yang menimpa akan tetapi ia tetap tersenyum menghadapinya.

“Orang yang bersyukur fokus pada apa yang dia miliki sementara orang yang kufur selalu memikirkan apa yang belum dimilikinya”

Profesor Robert A. Emmons seorang profesor psikologi dari california university melakukan penelitian menarik tentang syukur yang melibatkan mahasiswanya, saat itu ia membagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk menuliskan lima hal yang menjadikan mereka bersyukur setiap hari artinya adalah hal-hal yang disenangi termasuk sesuatu keinginan tercapai, hadiah, kelapangan waktu, dan berbagai hal-hal menarik. Sedangkan kelompok kedua diminta untuk mencatat lima hal yang menjadikan mereka berkeluh kesah seperti hal yang mereka tidak inginkan, hal-hal yang mereka belum miliki, hal-hal yang dikhawatirkan dan sejenisnya.

Tiga pekan kemudian masing-masing kelompok diminta untuk memberi laporan atas apa yang dia rasakan, ternyata kelompok pertama memberitahukan adanya peningkatan dalam hal kesehatan jiwa dan raga mereka, serta semakin membaiknya hubungan sosial kemasyarakatannya dibanding dari kelompok kedua yang disuruh fokus menggelisahkan hal-hal yang tidak disukai dalam hidupnya.

Di lain waktu, professor emmons melakukan aneka penelitian yang melibatkan beragam kondisi manusia, termasuk pasien penerima organ cangkok, orang dewasa yang menderita penyakit otot syaraf dan murid kelas lima SD yang sehat. Di semua kelompok manusia ini, hasilnya sama, orang yang memiliki catatan harian tentang ungkapan rasa syukurnya mengalami perbaikan kualitas hidupnya.

Itulah sekilas hasil penelitian yang dilakukan oleh professor emmons ternyata orang yang menuliskan hal-hal yang indah dan menyenangkan sebanyak lima kali saja sehari atau orang yang melakukan aktivitas bersyukur sebanyak lima kali sehari saja memiliki kualitas hidup yang jauh lebih baik dari yang menggerutu dan menyesali keadaannya.

Hanya lima kali saja, lalau bagaimana dengan kita sebagai umat Islam?, berapa kali kita mengucapkan kalimat syukur hamdalah dalam sehari?. Oke, mari kita hitung dalam surah Al-fatihah saja kita mengucapkan kalimat syukur 17 kali dalam sehari, belum lagi ditambah dengan dzikir setelah shalat yang mana kita dianjurkan 33x, jikalau kita melakukannya maka tidak kurang kita mengucapkan syukur dari 200 kali dalam sehari. 40 kali lebih banyak dibanding yang professor emmons lakukan pada penelitiannya.

Pertanyaannya, kenapa ucapan syukur yang kita ucapkan ratusan kali tersebut tidak berdampak dalam kehidupan kita?. jawabannya sederhana, karena ia hanya sebatas ucapan tidak diresapi oleh hati, tidak direnungkan oleh pikiran sehingga tidak membuahkan rasa, hanya sebatas lisan saja. So, mulai saat ini marilah kita nikmati setiap ucapan syukur kita dengan membayangkan nikmat-nikmat yang Allah karuniakan pada kita. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur, karena sangat banyak nikmatnya pada kita, udara yang kita hirup,kesehatan, nikmat rezeki bahkan kesempatan untuk mengucapkan kalimat hamdalah itupun juga suatu yang nikmat besar yang patut kita syukuri.

Hidup ini adalah pilihan, begitu  ketika kita memandang hidup adalah sebuah pilihan, kita bebas memilih akan memandang hal-hal baiknya hingga membuahkan rasa syukur atau malah memilih melihat hal-hal tidak kita sukai atau yang belum kita miliki hingga membuat hati kita gelisah.

Buya hamka mengatakan, “Bahagia itu dekat dengan kita adalah dalam diri kita”. Dan salah satu kunci utamanya adalah bersyukur

%d bloggers like this: