0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Melepas putri tercinta yang sudah dirawat dan dibesarkannya sedari kecil bukanlah hal yang mudah bagi seorang ibu. Ini berat, makanya banyak para ibu yang benar-benar selektif dalam memilih calon suami untuk anaknya, ibu ingin anaknya mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik. Sang ibu berharap anaknya mendapatkan kehidupan yang lebih atau setidaknya sama bahagianya ketika masih tinggal bersama dengannya. Selain itu bentuk kecintaan sang ibu pada anak gadisnya adalah ketika sang anak bisa menjadi istri yang patuh dan taat pada suami, mendidik anak dengan sebaik-baiknya dan akhlaknya selalu terjaga.

Adalah Ummu Mu’ashirah yang begitu mencintai putrinya, hingga suatu ketika ia memberikan nasihat sangat berharga pada sang putri yang akan menikah. Sengaja kami tulis ulang nasihatnya disini, sebab kami yakin nasihat ini juga sangat dibutuhkan oleh para muslimah yang akan menikah. Berikut adalah nasihatnya :

“Wahai putriku, engkau akan menghadapi kehidupan baru. Kehidupan yang di dalamnya tidak ada tempat bagi ibumu, ayahmu, atau salah satu saudara-saudaramu. Engkau akan menjadi teman bagi seorang laki-laki yang tidak ingin ada seorang pun menyertainya mengenai urusanmu, meskipun darinya ia berasal hingga meski itu dari daging dan darahmu.

Wahai putriku, jadilah engkau baginya seorang istri dan juga seorang ibu. Buatlah ia merasa bahwa engkaulah segalanya dalam kehidupan dunianya. Ingatlah selalu bahwa laki-laki itu adalah bocah besar. Sedikit ucapan manis terkadang membuatnya bahagia.

Janganlah membuatnya merasa bahwa pernikahannya denganmu telah menghalangimu dari keluargamu. Karena perasaan-perasaan seperti itu kadang akan membangkitkannya. Sebab ia juga telah meninggalkan rumah orang tua dan keluarganya semata-mata karenamu. Akan tetapi, perbedaan antara dirimu dan dirinya adalah perbedaan antara perempuan dan laki-laki.

Perempuan akan selalu merindukan keluarga dan rumahnya, tempat ia dilahirkan, tumbuh berkembang dan belajar. Namun, ia harus mulai membiasakan diri dengan kehidupan baru ini. Ia harus mulai mengadaptasikan kehidupannya bersama seorang laki-laki yang kini telah menjadi suaminya, pemeliharanya, serta ayah dari anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru.

Wahai puteriku, inilah kehidupanmu di masa kini dan masa yang akan datang. Inilah keluargamu, tempat kalian berdua –engkau dan suamimu- membangunnya bersama-sama. Adapun kedua orang tuamu maka mereka adalah masa lalu. Namun, sungguh aku tidak memintamu untuk melupakan ayahmu, ibumu, maupyun saudara-saudaramu. Sebab, mereka sekali-kali tidak akan pernah melupakanmu. Bagaimana bisa seorang ibu akan melupakanmu, sedang engkau adalah buah hatinya. Akan tetapi, aku memintamu agar mencintai suamimu, hidup untuknya, serta berbahagia dengan kehidupanmu bersamanya”

Itulah, seuntai nasihat berharga dari Ummu Mu’ashirah untuk putrinya, termasuk juga untuk para muslimah lainnya di mana pun berada. Jika disederhanakan tentang nasihat Ummu Mu’ashirah ini pesannya adalah agar seorang wanita yang telah menikah mengutamakan ketaatan pada suaminya dibanding pada orangtuanya sendiri. Sebab oleh itu, pilihlah laki-laki terbaik untuk menjadi suami agar setiap perintah dan tatarannya semakin mendekatkanmu pada Allah Swt.

%d bloggers like this: