0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Tentang Jodoh.

Apakah Harus Dimulai dari Pacaran?

Pacaran dan Gelora Jiwa Muda

“Jatuh cinta tak selalu membuat hatimu bahagia, karena yang namanya jatuh tentu menyakitkan”

Rasa cinta adalah fitrah dan merasakannya adalah anugerah, sesiapa pun jika sudah tiba masanya tentu akan merasakan ini, ketertarikan pada lawan jenis, yang sering dibahasakan sebagai jatuh cinta. Bahkan menjadi satu pertanyaan jika seseorang tidak merasakan ketertarikan ini atau bahkan malah tertarik kepada sesama jenis, bahaya.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Alla-lah tempat kebali yang baik (surga) (Q.S Ali-Imran [3] : 14)

Cinta adalah nikmat terindah dari Allah SWT, sebab oleh cinta jugalah Allah menciptakan Hawa untuk mendampingi Adam di surga dan akhirnya melahirkan anak dan cucunya sampai pada kita. Begitu juga dengan ayah ibu kita, buah dari cintanyalah kita terlahir ke dunia ini.

Cinta adalah bagian dari naluri yang ada dalam diri manusia, disebut sebagai gharizah nau’ naluri untuk melanjutkan keturunan. Artinya jika seseorang merasakan ketertarikan pada lawan jenisnya akan disertai oleh syahwat. Rasa ketertarikan pada lawan jenis ini muncul ketika seseorang sudah memasuki masa balighnya atau pubertas.

Bagi laki-laki masa baligh ditandai dengan perubahan suara, mengalami mimpi basah, tumbuh rambut di daerah tertentu, munculnya dorongan seks dan juga ketertarikan yang begitu kuat pada lawan jenis. Sementara pada wanita baligh ditandai dengan haid, membesarnya payudara, tumbuh rambut di daerah tertentu dan juga ketertarikan pada lawan jenis. Pada wanita masa balighnya saat ia berusia diatas 10 tahun sementara pada laki-laki ketika ia berusia diatas 11 tahun. Dan sesuatu yang diistilahkan dengan jatuh cinta itu biasanya muncul pada masa-masa ini.

Karena rasa cinta pada lawan jenis adalah gharizah nau’ atau naluri untuk melanjutkan keturunan maka sudah bisa dipastikan rasa ini juga disertai oleh dorongan seksual pada lawan jenis yang membuatnya tertarik. Ketika seorang merasakan gejolak rasa ini, maka dia membutuhkan sebuah aktivitas untuk mengekspresikan rasa tersebut, dan selama ini pacaran diyakini adalah cara yang tepat untuk mengekspresikan perasaan cinta pada lawan jenis.

Sehingga pacaran sudah menjadi budaya anak muda, jika seseorang sudah memasuki masa baligh tapi belum memiliki pacar akan menjadi ‘aib’ tersendiri bagi mereka. Pacaran adalah sebuah bukti kalau dirinya adalah anak muda keren, sementara kesendirian akan dipandang menjadi suatu yang memilukan.

Maka jika sudah tiba masa ini, ketika rasa itu sudah hadir, mencari ‘gebetan’ sudah menjadi ritual wajib mereka. Serta meresmikannya dalam sebuah ikatan yang bernama pacaran adalah kemenangan.

Hal ini tak terelakkan, sebab dari segi pendidikan di sekolah pun belum ada kurikulum mata pelajaran yang membahas khusus cinta serta pacaran bukanlah hal yang dilarang. Sementara dari luar, berbagai media hiburan baik cetak, elektronik maupun daring (online) secara tidak lansung turut membentuk perilaku berpacaran anak muda hari ini. Kita bisa saksikan bagaimana sinetron, Film Televisi (FTV), musik, film layar lebar menyebarkan tentang referensi cara berpacaran yang kekinian. Sehingga hal ini menjadi santapan nikmat bagi anak muda yang ingin ‘membahagiakan’ pasangannya.

Pacaran dan Pergaulan Bebas yang Memilukan

Minimnya pendidikan di sekolah, kurangnya pengawasan dari orang tua serta tidak adanya kepedulian dari lingkungan pacaran yang pada awalnya hanya cara untuk mengekspresikan rasa cinta pada lawan jenis berubah menjadi sebuah petaka yang sangat menakutkan.

Ketika tontonan di televisi menjadi rujukan dan tuntunan maka anak-anak muda yang sedang berpacaran ini tanpa disadari sedang berjalan mendekat menuju jurang berbahaya. Pergaulan bebas.

Katakan cinta, berikan sepotong coklat, hadiahkan seikat bunga, cium kening, dekapan hangat, saling berpelukan menjadi suatu hal biasa dalam setiap aktivitas pacaran. Bahkan akan dianggap kampungan jika tidak ada ritual seperti ini dalam hubungan mereka.

Seperti di awal telah kita bahas, kalau rasa ketertarikan pada lawan jenis adalah naluri melanjutkan keturunan maka tak bisa dielakkan jika naluri ini juga akan disertai oleh syahwat yang akan menimbulkan dorongan seksual.

Berbagai interaksi seperti saling sapa melalui telpon atau sms, saling tatap mata ketika bersua, saling berpegangan saat berdua, saling berpelukan hingga aktivitas-aktivitas lainnya. Adalah bentuk kekeliruan dari pacaran, inilah yang pada akhirnya menjadi pemicu pergaulan bebas.

“Perzinaan hanya terjadi karena dua hal melalui prostitusi dan pacaran”

Fakta pun akhirnya berbicara pergaulan bebas marak terjadi di kalangan generasi muda kita, bahkan di usianya yang sangat belia. Terlebih lagi BKKBN merilis hasil penelitiannya yang menyebutkan kalau usia mulai pacaran adalah 12 tahun. Masih menurut BKKN hampir 34,7% remaja perempuan berusia 14 – 19 melakukan hubungan seksual sebelum menikah sementara untuk anak laki-laki mencapai 30,9%. Sementara untuk anak muda berusia 20-24 tahun pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah 48,6% untuk perempuan dan 46,5% untuk laki-laki. Itu adalah survei yang dilakukan pada tahun 2002 – 2003, bagaimana dengan hari ini ? Boleh jadi jauh lebih tinggi dari itu.

Sementara komisi nasional perlindungan anak mengungkapkan hasil yang disampaikan lansung oleh ketua umum komisi nasional perlindungan anak. Komnas meneliti perilaku seks di kalangan remaja SMP dan SMA. Hasilnya, dari 4.726 responden, sebanyak 97 persen mengatakan pernah menonton pornografi, dan 93,7 persen mengaku sudah tak perawan. Bahkan, 21,26 persen sudah pernah melakukan aborsi.

Penelitian yang sama dilakukan Komnas pada 2008 dengan jumlah responden yang sama, Menemukan bahwa 62,7 persen remaja SMP sudah tak perawan serta 21,2 persen mengaku pernah melakukan aborsi. Penelitian ini dilakukan di 17 kota besar di Indonesia.

Pada tahun 2007 Komisi Perlindungan Anak Indonesia merilis hasil penelitiannya tentang perilaku pacaran di kalangan remaja. Hasil dari penelitian yang diadakan di 12 kota besar ini adalah 92% pernah melakukan kissing, petting dan oral sex. 62% pernah melakukan hubungan intim dan 22,7% pernah melakukan aborsi.

Menghela nafas, mengurut dada mungkin itu yang bisa kita lakukan saat mengetahui data-data diatas. Itu baru yang terdata bagaimana dengan yang tidak terdata ? Ini adalah fenomena gunung es, yang terlihat baru puncaknya saja. Tapi di bawahnya boleh jadi jauh lebih mengerikan.

Yang pertama kali merasakan kerugian dari fenomena ini tentu remaja itu sendiri. Pacaran akan menjadi penghancur masa depan mereka, orang tua di rumah yang telah berlelah payah bekerja, banting tulang mencari nafkah untuk membiayai sekolah anaknya akan menelan pahitnya empedu dari masalah ini.

Apakah semua aktivitas pacaran berujung pergaulan bebas ? Tentu tidak, tapi yang perlu kita sadari adalah pacaran gerbang dari pergaulan bebas. Sebagaimana Allah SWT mengingatkan kita dengan firmannya.

Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatn yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Al-Isra [17] : 32)

Pacaran dan Ujian Rasa

“Seandainya bisa memilih, maka aku akan memilih untuk tidak jatuh cinta”

Suatu ketika seorang anak muda, sebut saja namanya budi merasakan ada yang aneh dalam dirinya. Kala itu usianya baru menapak 14 tahun, masih duduk di bangku smp. Rasa aneh itu adalah ketika tiba-tiba hatinya mulai kagum pada seorang anak perempuan teman sekelasnya. Jantungnya berdebar kencang saat berjumpa, ada rasa khawatir saat menatapnya lansung tapi juga ada rasa ingin melihat wajahnya dengan tatapan sempurna.

Saat tak bersama ada rasa yang menyelinap dari jiwa, muncul bayangan berkelabat di wajahnya, ada kerinduan untuk kembali bersua. Budi pun bertanya-tanya rasa apakah ini ? Mungkinkah ini cinta ?

Sebagai pelajar yang berprestasi yang hari-harinya terbiasa dengan fokus belajar, budi merasa terganggu dengan perasaan ini. Ia bingung dengan sesuatu yang dia rasakan. Ia ingin rasa ini hilang, lenyap dan hati serta pikirannya bisa fokus kembali untuk belajar. Ia semakin bingung ketika muncul lagi rasa baru saat ada seorang laki-laki lain yang mendekati wanita itu, laki-laki itu dengan penuh keberanian menyatakan cinta. Dadanya pun semakin sesak, hati terasa sakit, pikiran jadi tak tenang. Yang dirasakannya itu adalah cemburu.

***

Apa yang akan dilakukan saat rasa itu hadir ? Ini menjadi suatu kegelisahan tersendiri bagi setiap anak muda yang memasuki masa balighnya. Ada yang memilih mengikuti rasa hati itu, mengekspresikannya seperti yang dilakukan banyak orang. Mereka pun berpacaran. Tapi ada juga yang malah khawatir dengan rasa itu, khawatir akan melalaikan dirinya dari tanggung jawab utama, ternodanya hati dan terjerumus maksiat.

Sebab selain dampak berupa pergaulan bebas masih banyak dampak-dampak buruk dari aktivitas pacaran. Kecemburuan yang membuat sakit hati, cinta ditolak yang berujung putus asa, dikhianati cintanya hingga akhirnya kecewa. Bahkan dalam kasus tertentu tak jarang juga yang sampai depresi, frustasi, hari-hari penuh dengan tangisan sakit hati hingga bahkan sampai bunuh diri gara – gara cinta.

Cinta adalah anugerah dari-Nya, sekaligus juga menjadi ujian bagi setiap hambanya-Nya. Ada yang berhasil melewati ujian ini, meskipun tak sedikit yang gagal melewatinya.

Menjaga diri adalah sebuah keniscayaan, meyakini kalau pacaran bukanlah cara terbaik untuk mengekspresikan rasa itu. Menjaga hati adalah sebuah keharusan, meyakini kalau pacaran hanyalah sebuah keburukan yang akan membawa pada keburukan yang lebih besar.

Pacaran adalah gerbang menuju perzinaan, bahkan sekecil-kecilnya maksiat pacaran adalah zina hati, berangan-angan akan sesuatu yang belum halal. Saat rasa itu datang, ketika hati mulai ingin mencinta, di kala pikiran sudah mulai berangan. Maka cara terbaik yang dilakukan adalah perbanyak istigfar mohon ampunan pada Allah SWT, perbanyak baca Al-qur’an agar hati senantiasa terjaga, menyibukkan diri dengan aktivitas bermanfaat agar tak ada lagi waktu untuk memikirkannya dan menjaga setiap interaksi yang dilakukan dengan lawan jenis.

Pacaran dan Jalan Terbaik Menemukan Jodoh

Pacaran itu maksiat, pernikahan itu ibadah. Yakin, mau memulai ibadah dengan maksiat ?

Pernikahan adalah cara terbaik untuk mengekspresikan cinta pada lawan jenis, pernikahan tidak hanya memberi ketenangan hati bagi yang rasa cintanya tersampaikan tapi juga bernilai ibadah di hadapan Allah SWT.

“Wahai para pemuda ! Barang siapa di antara kalian berkemampuan menikah, menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi kemaluan. Dan barang siapa belum mampu, hendaklah ia shaum (puasa), karena puasa itu dapat membentengi dirinya”

(HR Al-Bukhari dan Muslim)

Begitulah pesan Rasulullah SAW menikahlah jika sudah mampu dan jika belum mampu berpuasalah, bukan pacaran.

Sebagian orang menjadikan pacaran sebagai jalan untuk menemukan jodoh. Agar mengenal calon suami atau istri begitu dalihnya. Hingga tak sedikit juga menganggap tanpa pacaran sama saja dengan membeli kucing dalam karung, tak mengenali siapa calonnya takut nanti malah mengecewakan saat telah menikah. Alasan lainnya orang memilih pacaran karena menikah dengan orang yang sudah dicintai akan menjadi kebahagiaan tersendiri. Sementara menikah dengan orang yang baru dikenal bahkan belum dicintai akan jadi sebuah ujian.

Beragam keyakinan ini bisa saja muncul sebab memang keilmuan memulai pernikahan jarang sekali diajarkan di lingkungan kita, baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun lembaga pendidikan formal. Sehingga kita belajar secara otodidak melihat lansung kepada orang-orang terdekat atau melihat melalui media, baik elektronik, cetak maupun digital.

Dalam kehidupan masyarakat mayoritas pernikahan dengan pacaran menjadi satu impian, setidaknya ini membuktikan kalau dirinya laku. Sementara metode pernikahan lain seperti dijodohkan menjadi menakutkan sebab selalu dihubungkan dengan kisah pernikahan siti nurbaya. Sementara pernikahan dengan metode taaruf masih dianggap tabu.

Pacaran memang tak terlalu buruk dalam proses menuju pernikahan, sebab memang tak sedikit juga pernikahan yang diawali dengan pacaran menjadi rumah tangga yang bahagia, damai dan menjadi keluarga yang menyenangkan. Meskipun begitu kita juga perlu ingat kalau ternyata sangat banyak yang pada akhirnya menderita sebab memilih pacaran sebagai jalan untuk menemukan jodoh.

Permasalahan yang terjadi biasanya cinta yang kandas di tengah jalan, cinta bertepuk sebelah tangan, ditinggal pacar yang menikah duluan, hamil di luar nikah lalu ditinggal pergi, janji yang dingkari, pacaran 4 tahun bahkan lebih tapi harus berakhir dengan tragis, cinta yang tak direstui orang tua, dan berbagai masalah serupa.

Mungkin sebagian orang mengatakan itu adalah perjuangan cinta, tapi sungguh tak bijak jika itu di-amini dan dikuti. Karena kalau dilihat dari berbagai fakta yang ada pacaran bukanlah jalan terbaik menemukan jodoh. Selain maksiat pacaran juga menyebabkan seseorang menderita hati dan pikirannya.

Menikah tanpa pacaran memang takkan selalunya menyenangkan, sebagaimana tak ada jaminan bahagia dari pernikahan melalui pacaran, begitu juga dengan menikah tanpa pacaran. Tapi, setidaknya dengan menikah tanpa pacaran anda sudah memulai pernikahan dengan jalan yang Allah ridhoi. Jika awalnya sudah Allah ridhoi, mudah-mudahan begitu juga hingga akhirnya, tidak hanya bahagia tapi juga penuh kebarakahan.

Banyak metode pernikahan tanpa pacaran yang bisa dilakukan seperti dijodohkan, kenal lansung lamaran dan juga melalui taaruf. Pernikahan tanpa pacaran tidak hanya menjaga diri dan hati seseorang dari maksiat tapi juga memberi ketenangan bagi orang tua dari rasa was-was anaknya terjerumus perzinaan. Bagaimana detailnya metode pernikahan tanpa pacaran ? Akan kita bahas di bagian lain ensiklopedia pernikahan islami ini.

Bangkit dari Patah Hati

Patah hati adalah hal yang tak terelakkan bagi setiap yang memilih jalan pacaran. Mungkin ini sudah menjadi semacam resiko yang menjalaninya. Walaupun sudah menyadari dari awal kalau patah hati adalah resiko dari pacaran, tapi tetap saja mereka berat menerimanya. Tak siap dengan patah hati.

Susah melupakan mantan, kecewa berkelanjutan, tak bisa memaafkan,sakit hati tak terperikan dendam berkepanjangan adalah beberapa dampak dari patah hati. Bahkan ada juga yang sampai sanggup menangis di kamarnya dan tak mau makan berhari-hari hanya karena patah hati tidak bisa menerima mantan yang masih sangat dicintainya menikah dengan orang lain. Ini fakta, karena yang mengalaminya melakukan konsultasi lansung pada kami melalui rubrik konsultasi elmina.

Segitunya ? Ya, memang begitulah adanya. Beberapa waktu yang lalu media online dihebohkan dengan berita acara pernikahan yang dikacaukan oleh seseorang. Saat pernikahan berlansung datang seseorang yang memaki-maki dan berteriak sehingga suasana jadi kacau. Dan, yang mengacaukan itu adalah orang pernah jadi pacar si mempelai, alias mantannya. Ada lagi berita tentang hadirnya seorang wanita dalam sebuah pesta pernikahan, lalu tiba-tiba memeluk mempelai pria dengan menangis, dan lagi-lagi wanita tersebut adalah mantannya.

“Setiap orang memiliki masa lalu, mungkin itu menyakitkan. Tetapi setiap orang juga memiliki kesempatan untuk memiliki masa depan yang membahagiakan”

Setiap penyakit ada obatnya, setiap luka ada penawarnya, begitu juga dengan hati. Bagi sahabat yang mungkin khilaf, terjerumus pada aktivitas pacaran lalu mengalami patah hati tak perlu bersedih. Tetaplah tersenyum, jadikan masa lalu sebagai pengalaman yang penuh hikmah dan tatap masa depan dengan penuh keoptimasan.

Itu kan tidak mudah ? Benar, itu suatu yang berat. Setidaknya begitu curahan hati beberapa orang patah hati yang konsultasi pada kami. Tapi sadarilah tak ada gunanya terus menangisi masa lalu tapi mengabaikan masa depan, tak ada manfaatnya menyalahkan orang lain atas buruknya masa lalu kita lalu menjadikan masa depan terlupakan. Ingat, hidup kita bergerak maju ke depan bukan mundur kebelakang. Bagi anda yang kesulitan untuk bangkit dari patah hati, berikut ada beberapa hal yang bisa dicoba sebagai penawarnya.

  • Menyadari hidup ini adalah pilihan. Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah menyadari hidup adalah pilihan. Kita hari ini adalah dampak dari pilihan kita di masa lalu, sementara pilihan yang kita lakukan hari ini akan menentukan masa depan. Setiap pilihan yang kita pilih memiliki resiko, kita bebas memilih tapi tak bisa bebas untuk menerima resikonya. Begitu juga dengan patah hati yang dialami, itu adalah dampak dari pilihan masa lalu kita. Dan saat ini pun kita harus memilih lagi, memilih menangisi hati yang patah atau memilih bangkit untuk masa depan yang lebih baik. Pilihan ada di tangan kita.
  • Belajar memaafkan diri sendiri. Memaafkan itu berat, tapi ternyata memaafkan juga obat yang sangat mujarab, terutama untuk mengobati hati. Banyak orang yang gagal bangkit dari patah hati karena tidak berhasil memaafkan dirinya sendiri. Ketika dia membenci situasi patah hati itu sejatinya dia membenci dirinya sendiri, saat dia merasakan kecewa sesungguhnya dia sedang kecewa pada dirinya sendiri. So, jika anda sedang patah hati, cobalah untuk memaafkan dan berdamai dengan diri sendiri.
  • Dekatkan diri pada Allah SWT. Sejatinya hati yang tak tenang dan penuh kegelisahan adalah hati yang jauh dari Allah SWT, jarang disirami dengan dzikir menyebut nama-Nya, jauh dari ayat-ayat cinta-Nya dan jarang meminta pada-Nya. Maka jika anda merasakan patah hati, coba periksa hati. Evaluasi diri terutama hubungan dengan Allah SWT. Jika memang selama ini jauh dari-Nya, segeralah mendekat untuk memohon ampunan, meminta pertolongan dan diberi petunjuk

Apapun yang terjadi dalam kehidupan kita adalah ujian, termasuk juga permasalahan pacaran ini satu ujian bagi kita semua. Ujian bagi anak muda untuk menahan diri dan menjaga hati, ujian bagi yang mau menikah untuk tetap komitmen menempuh jalan yang diridhoi oleh Allah SWT dan juga ujian bagi para orang tua agar bisa menjaga anaknya dari pacaran. Dan tentu kita semua berharap, kita menjadi hamba yang terbaik dengan bisa melewati ujian ini.

Ta’aruf, Cara Kekinian Nan Syar’i Untuk Memulai Pernikahan

Lalu, jika tidak pacaran bagaimana cara mengenali pasangan sebelum pernikahan ? Sebelumnya perlu kita pahami bersama bahwa tidak ada satu pun cara untuk bisa mengenal pasangan dengan seutuhnya sebelum pernikahan, pun begitu dengan pacaran yang aktivitasnya lebih banyak diisi dengan pencitraan -berusaha tampil baik di depan pacarnya- proses saling mengenal yang sesungguhnya adalah setelah pernikahan nanti. Tidak hanya satu atau dua hari tapi membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun untuk mengenal pasangan.

Sementara ta’aruf adalah proses untuk mengenali pasangan sebelum menikah dengan cara yang syar’i, benar tidak ada jaminan untuk mengenal sepenuhnya tapi ta’aruf bisa menjadi salah satu ikhtiar untuk mengenali pasangan dengan cara yang syar’i. Ta’aruf bukan pacaran, tidak pacaran islami apalagi hubungan khusus dua lawan jenis tanpa kejelasan kapan pernikahannya. Ta’aruf hanya dilakukan oleh mereka yang benar-benar sudah siap untuk menikah, waktunya tidak terlalu lama dan tidak dilakukan berdua melainkan ada yang mendampingi. Lebih lengkapnya seputar ta’aruf akan dibahas di sini. Silakan kunjungi link Panduan Ta’aruf 

Sumber BKKBN :

http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?BeritaID=1761
http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?BeritaID=2885