0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Parenting Nabawiyah

Ilmu Berharga Seputar Parenting Nabawiyah, Bagaimana Cara Nabi Mendidik Anak

Suatu ketika seorang ayah tertunduk lesu, seorang ibu tak kuasa menahan air matanya, pasangan ini tampak begitu bersedih sekali lantaran mendapati kabar bayi kelima yang dikandungnya keguguran lagi. Anak pertama keguguran di usia 3 bulan kehamilan, anak kedua di usia 2 bulan kehamilan, anak ke 3 di usia 8 bulan kehamilan dan anak keempat keguguran lagi di usia ke 5 bulan kehamilan. Hampir 10 tahun mereka menunggu, kehadiran si buah hati, berharap akan lahir menjadi penggembira hati, penawar rasa lelah dan mengobati rasa capek tapi Allah belum juga mengaruniakannya seorang anak.

Kisah diatas hanya ilustrasi semata, hanya karangan yang menunjukkan betapa setiap orang tua sangat merindukan kelahiran anaknya. Anak adalah hadiah, ia adalah anugerah terindah yang menjadi sumber kebahagiaan bagi orang tuanya. Orang minang menyebut anak dengan  “Anak kanduang sibiran tulang, ubek jariah palarai damam” yang kurang lebih maknanya anak kandung bagian diri obat saat kelelahan dan penawar saat demam.

Allah Swt menyebut anak sebagai keindahan bagi manusia sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Ali Imran ayat 14 yang berbunyi :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita , anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”

Tapi yang perlu juga diperhatikan selain anugerah dan hadiah terindah dari Allah Swt anak juga menjadi amanah sekaligus ujian bagi orang tuanya. Orang tua memiliki tanggung jawab atas anaknya mulai dari menanamkan akidah tauhid, mengenalkan pada tuhannya serta mencukupi kebutuhan pokoknya. Setelah itu anak juga menjadi ujian bagi orang tuanya ujian atas kesabaran dan keikhlasan.

Sebab anak adalah amanah tentu akan ada pertanggung jawaban di akhirat kelak, tentu setiap orang tua berharap anak yang dilahirkannya menjadi generasi terbaik di dunia dan akhirat, memberi kebanggaan, menebar kebahagiaan, berbakti pada orang tua dan menjadi sebab berkumpulnya kembali di surganya kelak. Untuk mewujudkan itu semua tentu ada cara, ada konsep dan metode untuk mendampingi serta mendidik anak, kami menyebut metode ini sebagai parenting nabawiyah. Cara mendidik dengan ala nabi, semua sudah lengkap tuntunannya, sudah jelas langkah-langkahnya dan teruji hasilnya. Tinggal kita memilih apakah mau mengikutinya atau tidak.

“Syurga ‘Adn. Mereka masuk kedalamnya bersama mereka yang shalih  di antara orangtua mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ketempat-tempat mereka dari semua pintu”
(Q.s. Ar-Ra’d : 23 )

Sebuah Konsep Pendidikan Anak Terbaik Sepanjang Masa

Parenting nabawiyah adalah sebuah konsep yang telah teruji sepanjang masa, ia bukanlah tips atau cara coba-coba dari hasil sebuah penemuan atau pengalaman manusia yang menggunakan anak manusia lainnya sebagai kelinci percobaan. Yang mana tip tersebut bisa berhasil untuk satu anak dan memiliki kemungkinan gagal bagi anak yang lainnya.

Saat ini dunia parenting kita disesaki oleh berbagai macam tip dan trik yang berasal dari manusia, tip memang bukanlah hal yang keliru tapi perlu juga dipahami ada yang lebih utama dan penting dari pada tip yaitu konsep. Parenting nabawiyah adalah sebuah konsep yang berasal dari Al-qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. Metode pendidikan ini telah teruji sepanjang masa melahirkan generasi muslim terbaik. Adapun beberapa hal penting terkait parenting nabawiyah adalah :

  1. Al-qur’an dan hadist nabi sebagai sumber utama Jika kita menyadarinya maka banyak sekali mutiara ilmu seputar pendidikan anak dari dalam Al-qur’an yang terkias melalui kisah para nabi dan juga kisah seorang mulia yang disebut namanya dalam Al-qura’an yaitu Lukmanul hakim. Jika kita menggali mutiara-mutiara ini tentu akan menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi kita dan keluarga. Selain sumber utama parenting nabawiyah dari hadits nabi Muhammad Saw yang dilakukan oleh para sahabat, tabi’in dan ulama salafus-saleh.
  2. Konsep yang konsisten dan teruji Keunggulan dari parenting nabawiyah adalah konsepnya konsisten dan teruji sepanjang masa. Sebab konsepnya berasal dari Rabb pencipta sekalian alam yang diteruskan oleh manusia pilihan Rasulullah Muhammad Saw.
  3. Mengamalkan parenting nabawiyah akan menjadi ibadah bagi kita Saat kita mengamalkan parenting nabawiyah dalam kehidupan sehari-hari maka secara tidak lansung kita akan mengenali sosok Rasulullah Muhammad Saw, kita akan menggali dan mengamalkan sunnah Rasulullah Saw. InsyaAllah akan tercatat sebagai amal ibadah.
  4. Konsep parenting nabawiyah menuntun kita melahirkan tip teruji Ustadz Budi Anshari menjelaskan salah satu karakteristik dari parenting nabawiyah adalah membangun tip dari konsep. Tentu tip yang didapat adalah tip terbaik karena sudah dicobakan lansung oleh manusia pilihan Muhammad Saw.
  5. Setiap anak butuh teladan Setiap anak membutuhkan teladan atau istilahnya idola , setiap anak membutuhkan sosok hebat untuk didengarkan kisahnya, dicontoh dan dibanggakan. Makanya kita bisa saksikan industri film anak selalu melahirkan tokoh-tokoh heroik yang menjadi idola anak-anak. Sungguh sangat disayangkan jika anak-anak kita ikut-ikutan membanggakan tokoh idola semu tersebut. Untuk itu menjadi tugas dan kewajiban setiap orang tua mengenalkan sosok hebat Rasulullah Muhammad Saw pada anak-anaknya, jika anak memiliki idola pastikan itu adalah Rasulullah Saw, jika anak kita memiliki sosok yang dibanggakan maka pastikan kalau itulah adalah Rasulullah Saw. Menjadi bagian dari konsep parenting nabawiyah mengenalkan sosok hebat Rasulullah Muhammad Saw pada anak-anak dan diikuti dengan pengenalan sahabat rasul hingga sosok-sosok hebat dari tokoh muslim lainnya.
  6. Konsep parenting nabawiyah menjamin kebaikan dunia akhirat Saat banyak teori-teori parenting dari barat yang menjadikan kesuksesan dan kebahagiaan anak di dunia sebagai mercusuarnya maka parenting nabawiyah tidak hanya menjamin kebaikan bagi kehidupan anak di dunia tapi juga di akhirat.
  7. Konsep parenting nabawiyah menggerakkan orang tua untuk ikut mengamalkan kebaikan Karakter utama dari parenting nabawiyah adalah keteladanan, maka jika orang tua ingin anaknya melakukan kebaikan maka si orang tua harus mengamalkannya terlebih dahulu. Dan keteladan adalah cara terbaik menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri anak.

InsyaAllah akan selalu ada kejayaan saat menjalankan sunnah Rasulullah Saw, akan ada kebaikan di setiap sunnah Rasulullah. Allah Swt berfirman dalam surah An-Nisa ayat 80 :

“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”

Visi Utama Pendidikan Parenting Nabawiyah

“Jika ayah dan ibu hebat itu berpikir bagaimana anaknya sukses hingga 10 bahkan 50 tahun ke depan maka ayah dan bunda yang istimewa akan menyiapkan keluarganya sukses hingga berkumpul bersama kembali di surgaNya”

“Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Tanya nabi Yakub As pada anak-anaknya. Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Percakapan antara nabi Yakub As dan anaknya yang terekam dalam surah Al-baqarah ayat 133 ini menyiratkan akan sebuah visi dari mendidik anak yang harus dimiliki oleh setiap orang tua. Pertama adalah memiliki pemahaman tauhid yang benar dan pemahaman itu didapatkan dari ayahnya lansung sehingga dalam percakapan itu anak-anaknya menyebutkan Tuhanmu dan nenek moyangmu. Kedua adalah kekhawatiran orang tua akan anaknya, nabi Yakub tidak mengkhawatirkan anaknya kelak akan makan apa ? Mau hidup dimana dan bagaimana ? Tapi yang menjadi kekhawatiran utama dari nabi yakub adalah nanti anaknya akan menyembah apa.

Visi parenting Nabawiyah sejatinya sangat sederhana sekali, yaitu setiap orang tua memastikan anak-anaknya memiliki akidah dan dan tauhid yang lurus lagi benar sehingga dia menjadi pribadi yang taat serta bertakwa pada Allah Swt. Tentu dampaknya adalah anak terbebas dari api neraka dan bisa bertemu di surga-Nya.

Karakter Parenting Nabawiyah

Siapa yang sebenarnya paling bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak kita ? Realita yang terjadi pada masyarakat kita saat ini para orang tua banyak yang menggantungkan tanggung jawab pendidikan anaknya pada lembaga pendidikan. Saat sang istri hamil tak sedikit para ayah yang sudah gelisah memikirkan nanti anaknya mau sekolah dimana, mencari tau mana lembaga pendidikan terbaik untuk anak-anaknya. Menjawab kegelisahan orang tua yang seperti ini para pegiat industri pendidikan anak pun berlomba-lomba mendirikan lembaga pendidikan anak. Mulai dari berbagai jenis daycare, lembaga pendidikan anak usia dini, TK 0, TK A dan seterusnya. Ingin memberikan pendidikan terbaik untuk buah hati kita tentu boleh-boleh saja, tapi ya jangan sampai kita sebagai orang tua menjadikan lembaga pendidikan tersebut menjadi tempat pendidikan utama dan terpenting bagi pendidikan anak-anak kita. Meskipun bayarannya mahal, fasilitasnya seabrek tetap saja kita tak bisa menggantungkan pendidikan anak-anak kita pada lembaga pendidikan tersebut.

Karakter dari parenting nabawiyah adalah menjadikan orang tua sebagai penanggung jawab pendidikan anaknya. Ayah ibu adalah gurunya, rumah adalah sekolahnya dan keluarga sebagai lembaganya.

Terkait hal ini Rasulullah Saw mengingatkan kita melalui sabdanya :

“Setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian bertanggung jawab atas gembalaannya. Seorang pemimpin adalah penggembala dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya. Seorang laki-laki adalah penggembala di keluarganya dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya. Seorang wanita adalah penggembala di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya. Seorang pelayan adalah penggembala pada harta majikannya dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya.Setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian bertanggung jawab atas gembalaannya”
(Muttafaqun ‘alaiyh)

Melalui hadist lain Rasulullah Saw pun menyampaikan sebuah pondasi dalam pendidikan anak bahwa agama anak tumbuh dewasa sesuai dengan agama kedua orang tuanya. Orang tualah yang sangat bertanggung jawab pada anaknya sebagaimana sabda beliau yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

“Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan dilahirkan diatas fitrah. Namun, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Seperti seekor hewan yang melahirkan yang lengkap (tidak cacat), apakah dapat kalian temukan di antara keturunannya yang cacat ?”

Karakter dari parenting Nabawiyah yang selanjutnya adalah keteladanan. Keteladanan adalah cara mendidik anak yang paling baik dan efektif. Orang tua tidak perlu banyak mengeluarkan kata-kata nasihat dan petuah, cukup lakukan saja terlebih dahulu apa yang menurut orang tua baik bagi anaknya InsyaAllah dengan sendirinya anak akan mengikuti. Saat orang tua menyuruh anaknya shalat di awal waktu maka yang harus terlebih dahulu shalat di awal waktu adalah orang tuanya sendiri. Begitu pula ketika seorang ibu meminta anaknya untuk menutup aurat maka ibu mesti terlebih dahulu menutup aurat.

Anak terkadang tak begitu butuh kata-kata kita tapi lebih membutuhkan keteladan dari orang tuanya. Ada satu kisah menarik tentang keteladanan pada anak di zaman Rasulullah Saw. Diriwayatkan dari Abdullah bin Amir, dia bercerita : Suatu hari, ibuku memanggil diriku dan Rasulullah Saw sedang duduk di rumah kami. Kata ibu, “Kemari, aku beri kamu (sesuatu).” Rasulullah Saw pun bertanya kepada ibu, “Apa yang hendak kamu berikan padanya?” Kata ibu, “Saya akan memberinya kurma.” Lalu Rasulullah Saw berkomentar, “Kalau kamu tidak memberinya apa-apa, maka akan tertulis sebagai satu kebohongan bagimu” (H.r Abu Dawud )

Dalam kehidupan sehari-hari kita tentu sering sekali menemukan hal ini, banyak orang tua yang membujuk anaknya dengan berjanji memberikan atau membelikan sesuatu padahal sebenarnya tidak ada. Dan Rasulullah Saw menegur ibu yang melakukan hal ini. Sebab secara tak lansung sang ibu memberi keteladanan yang buruk pada anaknya.

Karakter yang tak kalah penting juga dimiliki oleh setiap orang tua dalam mendidik anaknya adalah ikhlas. Ikhlas penting dalam setiap amalan termasuk amalan mendidik anak, jika tidak ada keikhlasan dalam mendidik anak tentu akan menjadi beban yang dilakukan secara terpaksa oleh orang tua. Saat orang tua merasa terbebanani maka ia akan merasa tersiksa, tak nyaman, mudah bosan dan menyerah saat melewati berbagai prosesnya.

Ilmu, setiap hal ada ilmunya begitu juga dengan parenting nabawi. Pencinta ilmu adalah salah satu karakter penting yang perlu dimiliki oleh setiap orang tua, ia haus akan ilmu terus menambah khazanah keilmuan khususnya yang berhubungan dengan pendidikan anak.

Dan yang terakhir adalah kesabaran. Mendidik anak bukanlah perkara yang mudah, berat, sulit dan tak sedikit tantangan yang mungkin saja akan dihadapi, maka dibutuhkan kesabaran yang sesungguhnya dalam menjalani proses sebagai orang tua. Tanpa adanya kesabaran orang tua akan mudah lelah dan menyerah saat mengasuh anaknya. Allah Swt pun mengingatkan para orang tua agar bersabar dalam menyuruh anaknya shalat sebagaimana tercatat dalam surah Thaha ayat 132 .

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan sabar dalam mengerjakannya.Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adaah bagi orang yang bertakwa”

Itulah beberapa karakter yang perlu dimiliki oleh setiap orang tua dalam mendidik anaknya sesuai dengan parenting nabawi

Memulai Penerapan Parenting Nabawiyah

Suatu ketika ada seorang bapak yang menghadap Amirul mukminin ‘Umar Ibnul Khattab. Ia mengeluhkan sikap anaknya yang selalu berkata kasar kepadanya dan sering kali memukulnya. Maka ‘Umar pun memanggil anak itu dan memarahinya.

“Celakalah kamu! Tidakkah kamu tahu bahwa durhaka kepada orang tua adalah dosa besar yang mengundang murka Allah ? Bentak ‘Umar.

“Tunggu dulu wahai Amirul Mukminin, jangkau engkau tergesa-gesa mengadiliku. Jikalau seorang ayah memang memiliki hak terhadap anaknya, bukankah si anak juga punya hak terhadap ayahnya? Tanya sang anak.

“Benar…” jawab ‘Umar

“Lantas…apakah hak anak terhadap ayahnya tadi ?” Lanjut sang anak.

“Ada tiga…” jawab ‘Umar. “Pertama, hendaklah ia memilih caon ibu yang baik bagi puteri dan puteranya. Kedua, hendaklah ia menamainya dengan nama yang baik. Dan ketiga, hendaklah ia mengajarinya menghafal Al-qur’an.

Maka sang anak berkata, “Ketahuilah wahai Amirul mukminin, ayahku tak pernah melakukan satu pun dari tiga hal tersebut. Ia tidak memilih calon ibu yang baik bagiku. Ibuku adalah hamba sahaya buruk berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga dua dirham, lalu malamnya ia gauli sehingga ia hamil mengandungku ! Setelah aku lahir ayah menamaiku Jua’al (sejenis kumbang), dan ia tak pernah mengajariku menghafal Al-qur’an walau satu ayat!”

“Pergi sana…! engkaulah yang mendurhakainya sewaktu kecil, pantaslah kalau ia durhaka kepadamu sekarang.” Bentak ‘Umar kepada ayahnya.

Kisah yang kami sadur dari buku Ibunda para ulama karya Sufyan Fuad Baswedan diatas secara tidak lansung menyiratkan pesan dari mana awalnya parenting Nabawiyah bermula. Yaitu memilihkan ibu terbaik untuk anak-anak, ibu yang shaleha, memiliki kecintaan pada Allah dan Rasulnya.

Kesuksesan parenting nabawiyah bermula dari keluarga yang kokoh yang ditopang oleh ayah dan ibu yang taat pada Allah Swt. Sementara membangun keluarga yang kokoh, rumah tangga yang selalu mengutamakan ketaatan pada Allah Swt berawal dari memilih calon pasangan terbaik, dalam hal ini lebih menjurus untuk kaum laki-laki agar memilih wanita shaleha sebagai istrinya.

Ibu adalah guru pertama dan yang utama bagi anak-anaknya, pepatah arab menyebutkan bahwa ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Terkait hal ini Rasulullah Saw pun bersabda “Pilihlah untuk sperma kalian tempat-tempat yang baik” .

Setelah memilih wanita terbaik nan shaleha dan bertakwa, juga menjadi sebuah kewajiban bagi setiap muslimah memastikan calon suami dan calon ayah bagi anak-anaknya adalah laki-laki yang bertakwa, taat dan memiliki komitmen keislaman yang tinggi.

Pada tahapan selanjutnya proses parenting nabawiyah adalah saat suami memastikan setiap butir makanan dan setiap tetes minuman yang masuk ke dalam perut keluarganya berasal dari nafkah yang halal, harta yang halal. Kehalalan harta ini juga akan menjadi kunci suksesnya parenting Nabawiyah.

Setelah itu proses parenting nabawiyah dilanjutkan dengan membangun rumah tangga yang barakah, menjalani kehamilan hingga melahirkan anak sesuai syariat Islam. Hingga menerapkan kaidah-kaidah parenting Nabawiyah dalam setiap tahapan perkembangan anak. Mendidik anak dengan metode parenting nabawiyah terbagi dalam beberapa tahapan di mulai dari tahapan pendidikan anak usia 0 – 3 tahun, pendidikan anak usia 4-10 tahun, pendidikan anak usia 10-14 tahun, pendidikan anak usia 15-18 tahun dan pendidikan anak usia pranikah. Setiap tahapan memiliki metode dan karakter pengajaran tersendiri. InsyaAllah pada bagian lain tulisan ini akan kita tuntaskan pembahasan masing-masing tahapan.

Hambatan Dalam Penerapan Parenting Nabawiyah

Siapakah penghambat terbesar dalam proses parenting nabawiyah ? Jawabannya adalah setan. Setan telah bersumpah untuk menjauhkan anak keturunan manusia dari jalan Allah, setan akan melakukan berbagai cara agar manusia menjadi ingkar dan sampai hari kiamat nanti setan tidak akan pernah berhenti mengusik manusia agar jauh dari ketaatan pada Allah dan Rasulnya sehingga pada akhirnya sama-sama tergelincir bersamanya ke jurang neraka.

“Dia Iblis berkata : “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas dirikku ? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil.” Allah berfirman : “Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya Neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka”
(Q.s al-Isra’ : 62 – 64)

Seperti telah kita bahas pada bagian awal bahwa misi utama dari parenting nabawiyah adalah menyelamatkan anak dan keluarga dari panasnya api neraka. Setan hadir untuk menghambat itu, dengan berbagai macam cara untuk melalaikan manusia agar ingkar pada Allah Swt dan RasulNya. Setan hadir dalam bentuk tipu daya jabatan dan karir sehingga para orang tua lebih mengutamakan jabatan dan karir dibanding anaknya, setan muncul dalam rupa harta sehingga demi harta tak sedikit orang tua mengenyampingkan anaknya, setan muncul dalam bentuk kecintaan pada ilmu modern sehingga para orang tua mengabaikan pendidikan ala nabi lantaran dianggap sudah kuno dan tertinggal. Dan, setan muncul dalam berbagai rupa lainnya untuk menipu dan melalaikan manusia.

Melahirkan Generasi Sukses Ala Parenting Nabawiyah

Parameter kesuksesan dari parenting Nabawiyah tidak hanya berorientasi pada dunia atau akhirat semata tapi menyeimbangkan keduanya. Sukses di dunia begitu juga hingga akhiratnya. Sejarah telah membuktikan parenting Nabawiyah telah berhasil mencetak generasi emas di masanya. Sejak di zaman Rasulullah yang telah melahirkan Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Mus’ab bin Umair. Dilanjutkan dengan kelahiran ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh muslim terhebat di masanya seperti Imam Asy Syafi’i, Muhammad Al Fatih, Ibnu Sina, Al Khawarizmi dan banyak lagi yang lainnya.

Hadiah Terindah untuk Para Orang Tua yang Mengamalkan Parenting Nabawiyah

Mendidik anak dengan parenting Nabawiyah memanglah tak mudah, berat, membutuhkan energi lebih bahkan pengorbanan dalam melakukannya. Tapi, dibalik itu semua Allah telah siapkan hadiah terindah bagi orang tua yang mendidik anaknya menjadi anak yang saleh dan saleha. Diantaranya adalah do’a anak yang shaleh akan tetap menyertai orang tuanya meskipun orang tua sudah meninggal di dunia.

Rasulullah Saw bersabda :

“Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah seluruh amal perbuatannya selain dari tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakannya.
(H.R Muslim dan Abu Hurairah)

Sementara di hadist lain yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Darda’ ia berkata :

Kami sebutkan kepada Rasulullah Saw tentang tambahan umur. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan memperlambat kematian seseorang apabila sudah datang ajalnya. Tambahan umur adalah Allah memberikan karunia kepada seorang hamba berupa anak-anak shaleh yang mendoakannya, sehingga do’a mereka dapat menyusul di kuburnya”

Orang tua yang berhasil melahirkan dan mendidik anaknya menjadi anak yang shaleh akan Allah angkat derajatnya setelah meninggal dunia sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah.,

Seorang diangkat derajatnya setelah dia meninggal dunia. Dia bertanya, “Wahai Tuhanku, apa ini?’ Dikatakan kepadanya, ‘Anakmu memohonkan ampunan untukmu.”

Mendidik anak menjadi shaleh dan shaleha sesuai petunjuk nabi ibarat seorang petani yang menabur benihnya di ladang. Suatu saat ketika benihnya tumbuh, berbuah dan panen yang akan menikmati kembali adalah orang tuanya juga.

Baca juga : 3 Konsep Utama Dalam Parenting Nabawiyah Menurut Ustadz Budi Ashari Lc.

Buku referensi parenting Nabawiyah

  1. Buku Inspirasi rumah cahaya parenting Nabawiyah karya Ustadz Budi Ashari Lc.
  2. Buku Prophetic Parenting
  3. Buku Prophetic Parenting for girls
  4. Buku Islamic Parenting
  5. Buku Ibunda para ulama