0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Dalam satu bulan terakhir, Indonesia diserbu ribuan pengungsi Rohingya dari Myanmar dan juga dari Bangladesh. Mereka masuk ke Indonesia melalui pesisir wilayah Sumatera dengan menggunakan kapal-kapal kayu.

Mereka akhirnya terdampar di Aceh dan Sumatera Utara lalu diselamatkan nelayan setempat. Di Aceh, para pengungsi gelap itu kini telah ditempatkan di 4 lokasi penampungan.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengungkapkan, pada Mei 2015 pengungsi muslim Rohingya masuk ke Indonesia dalam 4 gelombang.

Gelombang pertama berjumlah 558 pengungsi. Gelombang kedua 644 orang, ketiga 47 orang, dan gelombang terakhir 96 pengungsi. Total jumlah mereka saat ini sebanyak 1.346 orang.

Terpisah dengan Anak & Istrinya

Penyesalan berat dirasakan Hamituzen, salah seorang warga Muslim Rohingya yang mengungsi di Pos Bayeun, Aceh Timur. Betapa tidak, pria berusia 30 tahun ini sangat menyesal lantaran terpisah dengan anak dan istrinya yang masih tertinggal di Myanmar.

Ia mengungkap, kerusuhan sebelum keberangkatan membuatnya tidak bisa menemukan anak beserta istrinya. Bersama ratusan warga Muslim Rohingya lainnya ia meninggalkan negaranya dengan sebuah kapal kayu berukuran sedang.

“Saya ada istri dan satu anak di Myanmar,” kata Hamituzen kepada ROL, Ahad (24/5).
Terbata-bata dengan bahasa melayu yang ala kadarnya ia mengaku tak dapat menemukan isti dan anaknya. Bahkan dirinya tak bisa memastikan kondisi anak dan istrinya, apakah masih hidup atau sudah jadi korban pembantaian di sana.

Hamituzen mengungkap, Muslim Rohingya telah mengalami pembantaian sejak beberapa tahun terakhir. Ia menceritakan, besarnya diskriminasi terhadap umat Islam di Myanmar. Berbagai instansi baik pemerintahan, keamanan, dan instansi penting lainnya seolah tertutup bagi warga beragama islam.

“Polisi, Imigrasi, pemerintah tak ada Islam. Tak boleh. Semua Budha,” kata dia.

Puncak kerusuhan terhadap warga Muslim Rohingya terjadi empat tahun lalu. Sejak empat tahun lalu kerusuhan meningkat hingga pembunuhan, pembakaran rumah, sarana ibadah bahkan pemerikosaan bagi warga Muslim Rohingnya.

“Banyak orang dibunuh, tidak boleh shalat. Kalau shalat ditembak dibuhun. Kalau shalat dipenjara bertahun-tahun. Ada waktu shalat jumat, 10 orang dibunuh,” ujarnya.

Kondisi semakin parah beberapa saat sebelum keberangkatannya meninggalkan negaranya tiga bulan lalu. Ia ingat, dirinya dan ratusan orang lain meninggalkan negaranya menggunakan kapal tanpa tujuan yang jelas.

Satu-satunya tujuan kepergiannya adalah menyelamatkan diri dari kematian yang mengancam. “Mereka bunuh orang Islam. Habis dibunuh, dibakar dengan api,” katanya

Saat ini, ia hanya berdoa semoga keluarga yang ditinggalkannya dilindungi Allah SWT. Walauun di hatinya kecilnya ia sangat khawatir terjadi kejadian buruk yang menimpa keluarganya. “Semoga istri dan anak saya dilindungi Allah,” pungkasnya.


pengungsi-rohingya-3

pengungsi-rohingya-4

pengungsi-rohingya-5

pengungsi-rohingya-6

pengungsi-rohingya-7

pengungsi-rohingya-8

pengungsi-rohingya-9

 


 

Elmina-For-Rohingya

 

Sumber artikel : Republika.co.id , Liputan6.com

 

%d bloggers like this: