0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Maret 2011

Suatu hari datanglah Fajri. Seorang pemuda 25 tahun lulusan perguruan tinggi negeri. Wajahnya bersih dan lumayan good-looking. Binar matanya menunjukkan ia pemuda yang cerdas. Selepas lulus kuliah ia bekerja di sebuah perusahaan BUMN terkemuka, tampak menjanjikan kemapanan karier untuk hidupnya ke depan. Fajri yang merupakan rekan sekantor kakak hari itu datang ke rumah. Kakak bilang, sepertinya Fajri cocok dengan Tiara, jadi Kakak mau menjodohkan mereka. Hmm… terima gak ya?

 

Juni 2011

Tiara baru saja merebahkan diri sepulang dari bekerja. Dibukanya handphone kesayangan, dan matanya tertumbuk pada SMS dari Agun, kawan lama yang pernah 3 tahun sekelas di SMA. Isinya singkat, tapi cukup membuat jantung berdetak. “Bolehkah aku ke rumah untuk berkenalan dengan orangtuamu, meminta ijin meminang putrinya?”

Masyaa Allah, baru kemarin saat buka puasa bersama dengan teman seangkatan di SMA, Tiara berjumpa dengan Agun. Tiara tak menyangka Agun menaruh hati padanya. Pemuda itu tak banyak berubah. Tetap berpenampilan sederhana dan bersahaja, ramah terhadap semua orang, dan kini sedang membangun bisnis bersama teman-temannya.

Ah, Tiara bingung. Bagaimana ini?

***

Di usia 20-25 tahun seperti kisah Tiara di atas, keinginan kita untuk menikah biasanya menggebu. Kata “pacaran”  mungkin sudah lama kita singkirkan dari perbendaharaan jiwa, seiring proses hijrah memperbaiki dan meningkatkan taqwa. Hati tak ingin lagi terkotori dengan maksiat. Dan kita ingin sekali memiliki teman hidup yang halal dalam berbagi suka dan duka.

Ini merupakan hal yang wajar, mengingat di usia ini, syahwat memang tengah bergejolak. Bagi siapa yang mampu menikah, ujar Rasulullah saw, maka menikahlah. Tapi bagi yang belum sanggup, maka Rasul menganjurkannya berpuasa.

Lalu bagaimana seandainya tawaran itu tak hanya satu, tapi mungkin dua atau lebih? Tiba-tiba usai lulus SMA atau kuliah, mendadak banyak lelaki hadir menyatakan minatnya mempersunting kita. Belum lagi yang ingin dijodohkan oleh orangtua atau saudara.

Jika kejadianmu seperti Tiara, bagaimanakah sikap terbaiknya? Apakah memilih Fajri yang mapan finansial, tapi sejujurnya belum kita kenal secara mendalam, atau memilih Agun, yang mungkin masih berjuang mencari nafkah, tetapi Tiara sudah lama mengenalnya?

Alhamdulillah Islam telah mengatur setiap urusan sedemikian rupa agar manusia tak terjebak dalam kebingungannya berlama-lama. Bagi kita yang takdirnya harus bertemu dengan sejumlah pria dan pusing menentukan pilihan, maka simaklah sabda Rasulullah saw berikut ini :

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إذا جاءكم من ترضون دينه وخلقه فزوجوه إلا تفعلوه تكن فتنة في الأرض وفساد كبير

“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

Dari kedua hadits ini sesungguhnya telah jelas panduan Islam, bagaimana parameter kita dalam memilih pasangan. Jika datang pada kita 2 lelaki yang baik, teroponglah lebih seksama, siapa yang paling baik agamanya. Apakah ia baik sholatnya? Apakah ia rajin tilawahnya? Apakah hatinya terikat dengan masjid? Apakah shubuhnya dilewatkan dalam balutan selimut ataukah menembus hawa dingin di awal pagi?

Hal berikutnya yang menjadi pertimbangan adalah dari penampakan akhlaknya. Bagaimana sikapnya terhadap orangtua, cukup santunkah? Bagaimana tutur dan perangainya? Apakah ia jujur dan bertanggung jawab? Bagaimana sikapnya ketika marah? Dan sebagainya.

Kedua poin ini adalah yang hal yang paling mendasar dalam memilih pasangan, sebab suami akan menjadi imam kita di dunia dan akhirat. Bayangkanlah bagaimana nasib kita dan keturunan kita kelak di hari kiamat, apabila suami kita mungkin berwajah tampan tapi tak rajin sholat. Bayangkan bagaimana rumah tangga kita jika pemimpinnya memiliki  banyak harta, tapi  tak paham agama. Bisa gawat! Sebab ketampanan dan harta ini tidak membawa manfaat untuk kehidupan yang abadi kelak. Naudzubillah.

Pertimbangan-pertimbangan lain tentu saja sangat boleh dipikirkan, semisal soal ia keturunan siapa, bagaimana perihal pencarian nafkahnya, hartanya, dan lain-lain, namun jangan sampai pilihan berdasarkan agama ini tersisihkan dan dinomorsekiankan.

Well, tentu saja tidak ada lelaki ideal sebagaimana kita sadari bahwa diri kita pun penuh dengan kekurangan. Jadi turunkanlah standar-standar yang ketinggian. Sambil menimbang-nimbang, meminta masukan orangtua dan sebagainya, berkomunikasilah dengan Allah yang Maha Mengetahui segala urusan. Curahkan segenap perasaan kita dalam shalat istikharah, mintalah petunjuk agar pilihan kita dituntun oleh-Nya. Jangan lupa untuk selalu meluruskan niat, bahwa keputusan kita memilih semoga terhindarkan dari kecenderungan-kecenderungan dunia.

Setelah itu, bismillah, melangkah saja. Dengan panduan Allah dan Rasul-Nya, insyaa Allah, sebanyak apapun pilihan yang ada di depan mata, tak akan membuat kita galau berlama-lama. Selamat memilih, ya ?

Wallaahu a’lam bishshawab.

***

bahan bacaan : https://muslim.or.id/657-memilih-pasangan-idaman.html

%d bloggers like this: