0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Salah satu hal yang menguatkan hati saya dulu untuk menikahi istri saya adalah tentang kejadian disaat training motivasi yang kebetulan waktu itu kami ikuti bareng, Maaf rada curhat dikit.hihi. Jadi ditraining itu trainernya waktu itu kang asep menanyakan kepada setiap peserta apa impian kalian?, apa visi kalian?. Karena memang peserta yang hadir waktu itu sedikit yaitu kurang lebih 20 orang sehingga kang asep menanyai semua peserta tentang apa impiannya, apa visinya?

Bisa ditebak ruangan menjadi riuh, ketika peserta lain menyebutkan impiannya peserta yang lain serempak meng-aamiinkan, berbagi impian-impian hebat dari pesertapun diucapkan, ada yang mau jadi penulis, jadi trainer, jadi pengusaha, ingin membangun pesantren, membangun yayasan dhuafa, membangun rumah sakit gratis, sekolah gratis dan berbagai impian-impian hebat lainnya. Karena memang motivatornya mengajarkan agar memiliki impian yang besar, miliki impian yang bisa bermanfaat untuk banyak orang. Hal menarik yang terjadi saat itu adalah ketika istri saya (waktu itu belum jadi istri) ditanya tentang impiannya, jawabannya sangat sederhana, jauh berbeda dengan yang lain yang notabene impiannya “wah”. Istri saya hanya memiliki dua impian yang pertama adalah bisa menjadi istri yang baik untuk suaminya dan impian yang kedua adalah menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Sederhana sekali bukan?, ya kelihatannya sederhana, namun jika kita telusuri maknanya ternyata tak sesederhana kalimatnya.

Menjadi istri yang baik bagi suaminya dan bagi ibu terbaik bagi anak-anaknya jika disatukan dalam satu kalimat impian ini bisa juga kita maknai sebagai Ibu rumah tangga terbaik. Ibu rumah tangga, sebuah kalimat yang kedengarannya sederhana, sebuah profesi yang mungkin tiak dianggap, sebuah aktivitas yang mungkin sangat jarang sekali dimpikan oleh anak-anak muda, karena memang profesi ini sering dinomor tigakan, apalagi di zaman emansipasi wanita, yang mana dikampanyekan agar wanita berkarir, agar wanita bisa sejajar dengan laki-laki. Sehingga bagi mereka yang katanya berpikiran modern profesi ibu rumah tangga adalah sebuah profesi yang bisa diwakilkan kepada pembantunya.

Padahal sejatinya profesi menjadi ibu rumah tangga adalah profesi paling mulia bagi seorang wanita, mestinya profesi sebagai ibu rumah tangga adalah profesi impian setiap muslimah. Ketika menjadi ibu rumah tangga ia bisa dekat dengan anak-anaknya dengan kuantitas dan kualitas waktu yang maksimal, ia bisa lansung mendidik anak-anaknya, ia bisa dengan maksimal memberikan pelayanan terbaik pada suaminya ketika lelah pulang bekerja mencari nafkah.

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. 33:33)

Allah karuniakan sifat lemah lembut pada seorang muslimah, Allah anugrahkan naluri keibuan padanya, Allah juga perintahkan agar ia tetap dirumah, tidak berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah (baca : kehidupan glamour dan hedonis). Tujuannya tentu agar sebagai ibu bisa fokus dirumah bersama anaknya, karena ia adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, ia adalah penanam ilmu tauhid pada anaknya, ia lah yang memastikan agar akhlak anaknya baik, ia pendidik karakter pada anaknya, ia bertanggung jawab memastikan agar keturunannya adalah generasi yang baik, dan dengan memastikan anaknya menjadi anak yang shaleh, berkakhlak mulia ia telah menyumbangkan kontribusi penting bagi peradaban umat islam.

Tugas menjadi seorang ibu memang kelihatannya mudah, tapi ketika dijalanin tak semudah kelihatannya, tugas menjadi seorang ibu adalah sebuah tugas yang unik hanya bisa dilakukan oleh ibu itu sendiri terhadap anaknya, tidak bisa diwakilkan kepada orang tuanya, kepada kakaknya apalagi kepada orang yang bukan siapa-siapa (baca : pembantu). Karena jika itu dilakukan tentu hasilnya sangat jauh dari maksimal bahkan sering mengecewakan.

Untuk itulah sahabat muslimah semua, yang masih sendiri maka mulai hari ini bulatkanlah tekadmu untuk menjadi ibu yang baik dan berkualitas bagi anak-anakmu. Jika sudah menikah dan terlanjur berkarir dan terlanjur juga menitipkan anaknya, maka segeralah putar haluan, kembali ke habitatmu sebagai seorang ibu, percayakan tanggung jawab rezeki kepada suamimu. InsyaAllah waktu bersama anak, masa-masa mendidik anak jauh lebih berharga dari pada materi yang kau kejar. InsyaAllah Allah akan mudahkan selalu urusan orang-orang yang selalu taat pada perintah Allah dan Rasulnya. InsyaAllah dengan fokus menjadi ibu itulah sebuah ketaatanmu pada Allah dan Rasulnya. Karena memang untuk itulah kamu diciptakan dan juga diperintahkan.

Untuk para laki-laki, jika akan memilih istri, pilihlah yang mau full bersama anakmu, mendidik anak-anakmu. Ambil penuh tanggung mencari nafkah, karena memang itu tugas dan kewajibanmu.

 

%d bloggers like this: