0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Rumah Tangga Penuh Cinta

Menjalani kehidupan rumah tangga layaknya mengayuh biduk di tengah lautan.

Memulai ta’aruf yang sesungguhnya

Setelah ta’auf dijalankan, proses khitbah dilalui, akad nikah dilewati maka sampailah pada gerbang kehidupan yang sesungguhnya untuk mereka lewati bersama yaitu kehidupan rumah tangga. Inilah awal dari perjalanan dan perjuangan sesungguhnya.

Kehidupan rumah tangga adalah ta’aruf yang sesungguhnya, masa mengenal yang sebenarnya. Apapun metode mengawali pernikahan yang anda lakukan entah itu ta’aruf, dijodohin, atau bahkan pacaran hingga satu dekade pun tak akan bisa mengenali pasangan. Jangankan, masa sebelum menikah, setelah menikah pun anda mungkin juga belum bisa mengenali pasangan dengan sepenuhnya. Karena sejatinya kehidupan rumah tangga adalah proses mengenali yang sesungguhnya. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan hingga tahun yang dilewati akan selalu ada hal baru yang dikenali. Entah itu menyenangkan, menyebalkan atau mungkin juga akan berbuah penyesalan hingga terucap kata “Oh begini toh…coba tau dari dulu…”

Saat menemukan kebaikan dari pasangan mungkin anda bahagia dan akan berucap syukur, lalu bagaimana jika menemukan keburukannya ? Apakah menyesali pernikahan yang telah terjadi ? Tentu itu bukan solusi yang baik.

Solusi terbaik tentulah menerimanya dengan segala keikhlasan, meskipun bagi sebagian orang itu berat. Tapi bukankah niat pernikahan di awal untuk menggapai kebarakahan ? Tentu anda masih ingat barakah itu mensyukuri setiap kebaikan yang didapati, bersabar atas segala keburukan yang ditemui dan memastikan hal itu semakin mendekatkan kita pada kebaikan.

Suamimu bukan malaikat, istrimu bukan bidadari tapi hanyalah manusia biasa. Setiap manusia tentu tak sempurna, ada kesalahan yang dimiliki, ada kekhilafan yang mungkin akan dilakukan serta berbagai kekurangan lainnya. Tapi ingat, dibalik itu semua tentu ada kebaikan dalam dirinya, jangan sampai saat melihat kekurangan dalam diri pasangan menghalangi mata kita untuk memandang kebaikannya.

“Janganlah seorang mukmin membenci istrinya yang mukminah. Kalaupun ia membenci salah satu akhlaknya, tentu ia menyenangi akhlak lain yang ada padanya.”(H.R. Muslim)

Dalam banyak masalah rumah tangga adalah lebih mudahnya seseorang mengenali dan mengingat kesalahan pasangan tapi sulit menemukan kebaikan dalam diri pasangannya. Jika hal yang terjadi tentu interaksi suami istri akan berujung cekcok, pertengkaran bahkan perceraian.

Untuk itu setiap pasangan harus bisa menerima kekurangan diri pasangannya dan lebih jeli melihat kebaikan dalam diri pasangan. Jika suatu saat menemukan keburukan pasangan, ingatlah kebaikan yang anda sukai darinya.

Mengenal pasangan setelah pernikahan adalah proses yang panjang, siapkanlah mental dan energi lebih untuk menghadapinya. Karena boleh jadi ini akan jadi petualangan indah bagi anda dan pasangan.

Belajar katakan cinta

“Seindah-indahnya ucapan cinta, tentu yang dikatakan seorang laki-laki pada wanita yang telah menjadi istrinya”

Jika anda bertanya kapan sebaiknya mengatakan cinta ? Maka katakanlah saat wanita itu telah menjadi istrimu. Begitu juga bagi wanita, waktu terbaik baginya untuk menerima ucapan cinta adalah saat kalimat itu diucapkan oleh laki-laki yang telah halal baginya.

Banyak yang tak bisa membedakan antara cinta, nafsu, dan ego untuk memiliki serta hidup bersama. Mengatakan cinta mati tapi menyakiti, menyatakan cinta dari hati tapi merusak harga diri orang yang dicintai. Tak sedikit juga yang mengatakan cinta butuh pengorbanan tapi sampai mengorbankan keluarga, agama dan kehormatan.Tentu jelas itu bukan cinta, tapi syahwat dan ego pribadi yang mengatasnamakan cinta.

Cinta itu menjaga, jika seorang laki-laki merasakan cinta pada wanita tentu dia akan pastikan rasa cintanya tersebut menjaga wanita yang dicintainya, begitu juga sebaliknya. Terutama dari maksiat semisal pacaran. Maka mustahil rasanya jika laki-laki mengaku mencintai wanita tapi malah mengatakan cinta sebelum akad nikah dan mengajaknya pacaran. Dan agak aneh juga rasanya jika seorang wanita mencintai laki-laki tapi membuka peluang bagi laki-laki tersebut untuk bermaksiat dengan dirinya.

Dan sangat disayangkan setelah menikah jarang yang mau mengucapkan cinta pada pasangan, ucapan ini tak lagi begitu berarti.Sudah lewat masanya, bukan pacaran lagi dalih mereka.

Katakan cinta adalah momen terindah, dan akan lebih membahagiakan lagi jika ucapan ini disampaikan setelah akad pernikahan. Akan menguatkan hubungan, menumbuhkan cinta dan juga berbuah pahala pastinya, InsyaAllah.Tak hanya sekali, tapi anda boleh mengucapkannya berkali-kali, dengan berbagai macam momen dan tempat yang berbeda. Katakan cinta yang tulus dari hati akan sampai ke hati, menusuk ke relung jiwa dan cinta pun tertanam dan tumbuh disana.

Agar cinta tumbuh mengakar ke bumi

Bagaimana jika aku tak mencintainya ? Tanya seseorang pada kami. Jawabannya sederhana, jika anda belum mencintainya maka pernikahan itulah awal yang baik untuk mulai mencintainya. “Susah, lama dan berat sahut mereka”. Tentu, karena cinta setelah pernikahan bukanlah cinta biasa, tapi cinta dalam ketaatan pada Allah Swt.Ini cinta yang hebat. Mungkin cinta ini tak mudah tumbuh, mungkin akan butuh energi lebih untuk menghadirkannya, mungkin akan menuntut kesabaran lebih untuk menantikannya. Tapi yakinlah jika suatu saat dia sudah tumbuh akan sulit untuk menggoyahkannya, sulit untuk mencabutnya karena cintanya mengakar ke bumi.

Ibarat tumbuhan dia akan jadi sebatang pohon dengan akar tunjang menghujam bumi, memiliki batang yang kokok, daun rimbun dan tinggi menjulang. Ia tak seperti sayur toge atau pun jagung yang cepat tumbuh, rapu dan cepat juga matinya.

Untuk menyemaikan cinta pada pasangan dalam kehidupan rumah tangga perlu kesadaran, kalau pasangan hidup anda itu memiliki hak atas anda dan anda memiliki kewajiban atas dirinya. Allah perintahkan pada setiap suami untuk menafkahi istri lahir batin, melindungi dengan penuh kasih sayang dan menjaga dirinya. Begitu juga untuk para istri Allah perintahkan untuk taat dan patuh pada suami. Jika memang rasa itu belum ada, maka cukuplah taat pada perintah Allah sebagai alasan untuk memberikan yang terbaik dan membahagiakan pasangan.

Ayah-ibuku menjadi ayah-ibu kita

Pernikahan bukan saja pertemuan dua insan manusia yang mengikat janji untuk membangun rumah tangga, tapi juga pertemuan dua keluarga besar yang di dalamnya ada ayah, ibu, kakak dan adik.  Pernikahan tak hanya menyatukan dua insan manusia yang dinikahkan, tapi juga menyatukan dua keluarga ini.

Kalau sebelum menikah laki-laki memiliki ayah dan ibu dan juga wanita memiliki ayah dan ibu. Maka setelah menikah orang tua mereka menjadi satu. Ayah-ibu dari istri juga menjadi ayah –ibu bagi suami. Menjadi ayah-ibu kita. Yang masing-masing wajib berbakti dan menghormati sebagaimana orang tua sendiri. Tak ada lagi itu ibumu, ini ibuku setelah pernikahan. Semua menjadi ibu kita, ayah kita.

Dalam kehidupan rumah tangga tak sedikit muncul permasalahan yang disebabkan oleh perbedaan pendapat antara menantu dan mertua. Memang realitanya tak sedikit para orang tua yang terus mencampuri kehidupan rumah tangga anaknya, menggap anaknya masih “bodoh” sehingga butuh untuk diajari terus. Selain itu tak sedikit juga para orang tua yang terus mengatur kehidupan anaknya walau sudah menikah, “harus tinggal disini, harus begini, harus begitu” dan lain sebagainya.

Jika menemukan permasalahan seperti ini tentu kita perlu temukan dulu dasar penyelesaiannya. Dasar utama yang mesti dipegang teguh adalah kesadaran “Kalau mereka adalah orang tua kita dan mereka pada dasarnya ingin terbaik untuk anak-anaknya. Tapi sayangnya karena pola pikir, pengetahuan serta latar belakang yang berbeda menyebabkan perbedaan pandangan dengan anak-menantunya”. Setelah kesadaran ini ada dalam diri tentu harapannya tak ada rasa kesal, sakit hati, dendam hingga tindakan melawan pada orang tua.

Tapi berusaha untuk mengkomunikasikan dengan cara terbaik dan bersabar dalam penyampaiannya. Jika memang pendapat anak dan menantunya adalah sesuatu yang baik maka cepat atau lambat orang tua akan bisa menerima dengan cara yang baik. Tapi jika pandangan orang tua benar dan anak-menantu keliru, disinilah anak dan menantu perlu untuk legowo mengikuti orang tuanya.

Karena mereka telah menjadi ayah-ibu kita yakinlah apapun yang dilakukannya, apapun pendapatnya itu demi kebaikan kita anak-anaknya. Karena tak ada orang tua yang ingin keburukan atas anaknya, meskipun terkadang caranya terlihat tak baik.

Bagi wanita setelah menikah taat dan patuh pada suami lebih utama dibandingkan pada orang tua sendiri, tentu ini bukan berarti menghilangkan bakti pada orang tua. Sementara bagi laki-laki meskipun setelah menikah dia tetap menjadi milik ibunya, bahkan dia memiliki tanggung jawab atas ibu dan kakak atau adik perempuannya jika tak ada yang menanggung. Hal ini juga perlu dipahami oleh setiap istri agar mendukung suaminya untuk terus berbakti pada orang tua.

Tak kalah oleh masalah

Jika ditanya apakah ada rumah tangga yang bebas tanpa masalah ? Tentu jawabannya tidak ada. Semua rumah tangga pasti memiliki masalah, bahkan itu rumah tangga Rasulullah Saw. Pertengkaran, perselisihan dan perbedaan pendapat mungkin saja terjadi antara suami dan istri.

Setiap rumah tangga pasti memiliki masalah, reaksi menghadapinyalah yang akan membedakan…..

Setiap rumah tangga pasti memiliki masalah, reaksi dari suami dan istrilah yang akan membedakan dampak dari masalah tersebut pada kehidupan rumah tangga mereka. Apakah mereka akan kalah oleh masalah atau malah menjadikan masalah sebagai proses pembelajaran yang mendewasakan ? Itu tentu tergantung pilihan anda.

Pertengkaran antara suami dan istri adalah suatu hal yang wajar, sebab suami istri adalah dua insan yang berbeda jenis kelamin, berbeda juga cara pikir, cara berkata, cara merasa, cara bersikap dan cara merespon masalah. Disinilah setiap suami dan istri harus sama-sama mengetahui, sama-sama mengerti yang pada akhirnya sama-sama memahami.

Wanita memiliki cara pandang yang berbeda dengan laki-laki, maka penting bagi masing-masing pasangan untuk belajar tentang cara komunikasi dengan pasangannya. Sebab jika laki-laki memperlakukan wanita sebagaimana dirinya sebagai laki-laki tentu tidak tepat, begitu juga bagi wanita saat dia memperlakukan suaminya sebagaimana memperlakukan wanita tentu suatu hal yang keliru.

Baca juga : Tips berkomunikasi dengan suami ala john grays

Merengkuh sakinah, mendekat mawaddah dan menggapai waramah

Menjadi keluarga samara, atau lengkapnya sakinah, mawaddah dan warrahmah adalah cita dari setiap pasangan yang akan maupun yang sudah menjalani pernikahan.

Sakinah yang secara bahasa berarti ketenangan, rumah tangga yang mencapai sakinah seharusnya tentu menjadi rumah tangga yang tenang dan menenangkan. Ketenangan paling pertama tentu adalah tenangnya gejolak syahwat dalam diri setiap pasangan yang menikah. Selanjutnya adalah ketenangan dalam setiap aktivitas yang dijalankan, tidak tergesa-gesa, tidak saling memaksa, dan saling memberikan kedamaian.

Yang kedua adalah mawaddah, secara bahasa berarti gairah cinta pada pasangan. Saat bersama semakin sayang dan saat berpisah terasa semakin merindu. Seorang suami yang dirinya sudah dihinggapi mawaddah jika keluar akan merasakan kerinduan yang sangat dalam untuk segera pulang menemui istrinya. Begitu juga bagi istri, saat suami keluar dia akan selalu merindukan pasangannya. Dan mereka akan selalu berupaya untuk saling terhubung di saat berjauhan.

Dan yang terakhir adalah warahmah, kasih sayang. Kasih sayang akan muncul saat bersama, saat tak bersama. Dikala susah maupun senang, bahkan saat terjadi perbedaan pendapat dan pertengkaran kasih sayang akan selalu terselip. Bisa anda bayangkan bagaimana orang bertengkar dengan penuh kasih sayang ?

Sejatinya sakinah, mawaddah dan warrahmah adalah milik Allah. Jika kita ingin merengkuhnya maka tak ada cara lain selain memohon pada Allah dalam setiap do’a kita agar rumah tangga kita dikarunia sakinah, mawaddah dan warrahmah. Tak hanya berdo’a kita juga perlu menjalani setiap proses untuk menggapainya. Boleh jadi untuk menggapainya bukanlah perkara yang mudah, tapi yakinlah siapapun yang memiliki niat yang kuat, tekad yang bulat untuk mendapatkannya akan Allah karuniakan sakinah, mawaddah dan warrahmah dalam kehidupan rumah tangganya.

Baca juga : Menggapai Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah bersamamu