0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Ya Allah, sesungguhnya kau uji aku dengan nikmat-nikmat lalu aku bersyukur Itu lebih aku sukai, daripada kau uji aku dengan musibah-musibah lalu aku bersabar

(Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anha)

Ketika ditimpa musibah besar atau kesulitan oleh Allah sering bertanya “kenapa harus saya yang menerima ini”. Namun sangat jarang sekali kita bertanya “kenapa harus saya yang menerima ini”? Ketika Allah karuniakan kenikmatan-kenikmatan. Berkeluh kesah memang sudah menjadi tabiat manusia, berkeluh kesah terhadap kondisi yang Allah berikan padanya, merasa menjadi orang paling “sial” ketika mendapat musibah, namun melupakan begitu banyak nikmat yang telah Allah karuniakan.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh, kesah dan kikir. Apabila dia ditimpa kesulitan, dia berkeluh kesah. Dan apabila dia mendapat kebaikan, dia amat kikir.” (QS, Al Ma’arif : 19-21)

Sebagai seorang muslim sudah semestinya kita bisa menerima apapun ketetapan Allah dalam kehidupan kita, apakah itu Allah beri kenikmatan atau mungkin disaat Allah uji dengan kesulitan. Disaat Allah beri karunia nikmat maka jangan lupa bersyukur dengan menyebut “Alhamdulillah”, serta jika Allah uji dengan musibah atau kesulitan mengucapkan “Innalillaahi wa inna ilaihi raaji’uun”. 

Menerima dengan bahagia setiap nikmat yang Allah berikan, serta menjalani dengan penuh kesabaran jika Allah uji dengan kesulitan. Jika kita melihat setiap kesulitan yang menimpa kita dengan kaca mata ketidak adilan tuhan tentu hanya keluh kesah yang dirasa, hanya penyesalan yang didapat jauh dari rasa bahagia. Akan tetapi jika kita melihatnya dengan kacamata kesabaran serta meyakini kalau yang Allah berikan pada kita adalah YANG TERBAIK untuk kita SERTA SESUAI dengan KEMAMPUAN kita tentu dari sana kita akan belajar sesuatu dan mendapatkan hikmah darinya.

Sejatinya kebahagiaan bukan saja disaat kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan, namun jika bisa melewati ujian serta musibah kesulitan dari Allah dengan penuh sabar dan keikhlasan maka disanalah kita telah menemukan makna dari sebuah kesabaran.

Allah maha adil, Allah tidak akan pernah salah pada hambanya dalam memberikan ujian kenikmatan dan kesulitan. Ujian kenikmatan dan kesulitan juga tidak ada kaitannya dengan ketaatan seseorang. Berapa banyak orang yang taat, patuh dan baik prilakuknya namun Allah uji dengan berbagai kesulitan contohnya sebutlah nabi Ayub AS yang Allah uji dengan penyakitnya hingga semua orang menjauh darinya, sebutlah nabi yakub yang Allah uji dengan hilangnya putra kesayangannya nabi yusuf AS dibuang oleh saudara-saudaranya, Nabi ibrahim AS yang merindukan putra jauh-jauh hari namun setelah putra itu datang Allah meminta untuk menyembelihnya. Ya, begitulah Allah menguji hamba-hambanya dengan kesulitan. Namun yakinlah dibalik semua itu ada hikmah serta pembelajaran yang besar untuk kita semua.

Sumber foto : www.voaindonesia.com

%d bloggers like this: