0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Suami yang romantis adalah idaman semua wanita, benar?. Baik akhlaknya, manis tutur katanya, lemah lembut sikapnya tentu menjadi impian setiap wanita. Perlu diingat, kategori romantis yang kamu maksud disini adalah setelah pernikahan. Kalau sebelum menikah ada laki-laki yang sudah romantis padamu, memanggil dengan panggilan spesial, menyusun untaian kata mutiara yang melenakan hati, maka berhati-hatilah dengannya karena ada maunya.

Bermesraan setelah menikah adalah anjuran dan juga diteladankan oleh Muhammad Rasulullah SAW. Maka sudah semestinya setiap laki-laki muslim yang sudah menikah bisa membangun keromantisan dengan pasangannya. Di awal-awal masa pernikahan, ketika rumah tangga baru ditapaki, segala hal masih bertabur cinta, senyum masih bisa mengembang disana-sini, bunga-bunga cinta mulai bersemi dalam bilik-bilik cinta tentu romantis adalah sesuatu hal yang mudah dilakukan.

Akan tetapi akan menjadi ujian tersendiri ketika waktu sudah berlalu, kehidupan rumah tangga sudah mulai disusuri, masalah yang datang silih berganti, disaat-saat inilah ujian datang pada rumah tangga. Disaat kata sayang dan cinta mulai berubah menjadi sindiran bahkan hinaan. Disaat senyum mulai sulit lepaskan, disaat bunga-bunga cinta mulai layu. Ada yang bertahan melewati ujian ini, namun tak jarang juga yang gagal, sapaan mesra yang semestinya diberikan dirumah kepada pasangannya malah menjadi salah alamat diberikan pada orang lain inilah awal dari perselingkuhan, awal keretekan bangun  yang bernama rumah tangga. Jika hal ini terus berlanjut?, tentu perceraian yang akan didapati.Semoga Allah jauhkan kita dari hal ini

Suami yang hebat adalah yang bisa memanjakan istrinya dengan kata-kata. Memang kata-kata bukanlah sesuatu yang amat istimewa, akan tetapi ia akan menjadi suatu yang berharga bila disampaikan diwaktu dan saat yang tepat. Kata-kata adalah ekspresi cinta, perkataan yang lemah lembut adalah tanda penerimaan atas segala kelebihan maupun kekurangan pasangannya. Cinta, dibangun dari kata-kata, maka sudah semestinya laki-laki memanjakan istrinya dengan perkataan yang baik, dengan pujian, sanjungan, nasihat yang tak menyakiti dan menyinggung.

“Perkataan yang baik adalah sedekah.” [ HR. Bukhari no.2989 dan Muslim : 1009] 

Nabi Muhammad SAW suka memanjakan istrinya dengan kata-kata yang indah, sebagaimana isi rumah beliau semuanya indah. Pada suatu hari Rasulullah SAW berkata kepada Aisyah, dengan memanggilnya “Wahai ‘Aisy”..

“Wahai ‘Aisy, ini jibril mengucapkan salam untukmu.” Aku menjawab, “Semoga salam sejahtera dan rahmat Allah serta berbagai keberkatanNYA atas beliau. Engkau melihat apa yang tidak aku lihat .”

[ HR.Muslim no:2447]

Dan panggilan yang menyingkat nama itu sering beliau gunakan. Menurut para ulama panggilan menyingkat nama adalah termasuk dari ungkapan memanjakan. Beliau juga memanggil ‘Aisyah dengan menyematkan gelar yang indah, yaitu “Humaira” yang maknanya wahai perempuan bekulit putih kemerah-merahan sebagaimana Aisyah berkata :

“Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam memanggilku dan kaum Habasyah sedang bermain-main dengan tombak mereka pada hari raya, maka nabi berkata kepadaku :”Wahai Humaira’, apakah kau suka untuk menonton mereka? Maka aku berkata : “Iya” (HR.Nasaa’i)

Dilain waktu Rasulullah juga sering memanggil istrinya dengan panggilan yang membuat hati sejuk, yaitu “wahai Muwaffaqah” (Perempuan yang diberi taufiq) untuk ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang memiliki dua pendahulu (yakni, anak kecil yang meninggal) dari kalangan umatku, maka ia akan masuk surga.” ‘Aisyah berkata, “Bapakku sebagai tebusanmu, apakah orang yang memiliki seorang pendahulu (yakni, satu orang anak yang mati mendahuluinya) juga (akan masuk surga)?”

Rasulullah menjawab :

“Orang yang memiliki seorang pendahulu (yakni, seorang anak yang mati mendahuluinya) juga (akan masuk surga), wahai perempuan yang diberi  taufiq” [ HR. At-Tirmidziy]

Begitulah nabi mengajarkan tentang bagaimana memanjakan istri kepada kita semua, tidak hanya di awal-awal pernikahan, tapi sepanjang masa pernikahan. Sudah selayaknya jugalah kita meneladani Rasulullah SAW untuk memanjakan istri. Belajar mengatur lisan, menjaga agar tak terucap kata yang menyakiti hati sang istri, belajar menguntai mutiara yang indah untuk memanjakan sang istri. Karena sanjungan bagi para istri bagaikan air segar untuk bunga mawar dalam qalbu.

Sumber foto : www.akhwatindonesia.com

%d bloggers like this: