0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

Suami yang shaleh adalah dambaan setiap wanita muslimah. Sebagai seorang khalifah di rumah tangga. Merupakan suatu kebutuhan memiliki seorang suami yang shaleh. Karena bagaimanapun suami yang shaleh tersebutlah yang akan menuntun keluarga ke dalam surga. Jika seorang suami benar-benar shaleh maka akan tercipta keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah. Yang menjadi dambaan setiap umat manusia. Kriteria suami yang shaleh adalah suami yang selalu berusaha melaksanakan seluruh kewajiban secara baik dan bertanggung jawab. Bukan hanya dilihat dari berpakaianya saja, tetapi harus mampu melaksanakan kewajibannya.

Seorang suami yang shaleh adalah cahaya bagi keluarga tersebut. Adapun kriteria seorang suami yang shaleh adalah memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuan, memberikan nafkah batin, memberikan bimbingan pada keluarga, dan memperlakukan istri secara baik dan menjaga perasaannya.

Memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuan

Sesuai dengan firman Allah SWT

“Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang baik.” (Q.S. Al-Baqarah: 233)

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka.” (Q.S. Ath-Thalaaq 65: 6)

Berdasarkan firman Allah SWT tersebut dapat kita tafsirkan secara dalam bahwa seorang suami yang memenuhi kriteria Allah SWT adalah suami yang memberikan nafkah kepada istrinya baik itu sandang, papan ataupun pangan. Tapi perlu dicatat bahwa nafkah tersebut haruslah baik. Baik dalam artian harta yang diberikan ataulah didapat haruslah dengan halal dan tayib. Karena keberkahan datang dari harta yang suci dan bersih. Diperoleh dari cara yang baik dan benar. Selain itu seorang suami juga tidak memberikan beban pada istrinya. Maksudnya alangkah baiknya jika seorang suami dapat membahagiakan istrinya.

Memberikan nafkah batin

Salah satu kebutuhan manusia adalah terpenuhinya hasrat biologis. Hubungan biologis akan menjadi perekat pernikahan apabila dilakukan atas dasar saling membutuhkan dan dilakukan dengan cinta. Allah swt. menetapkan bahwa suami berkewajiban memenuhi nafkah batin isteri. Sepasang suami istri akan bertambah mesra jika hubungan biologis diantara keduanya terjalin dengan baik. Dengan restu dan ridho Allah SWT sebuah rumah tangga akan menjadi sakinah, mawadah dan warahmah jika terjalin hubungan biologis. Semuanya telah digariskan dan diajarkan dengan jelas dalam Islam. Islam adalah agama yang benar. Hal sekecil apapun yang menyangkut kehidupan umatnya pastilah diatur oleh Allah SWT. Salah satunya adalah hubungan biologi. Ada sunnah yang mengajarkan bagaimana berhubungan intim secara Islami.

Hal ini semua semata-mata untuk menjauhi godaan syaitan dan menjadikan rumah tangga semakin rukun

“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Q.S. Al Baqarah: 223)

Ayat ini sifatnya perumpamaan, Allah SWT. mengumpamakan istri bagaikan kebun tempat bercocok tanam sementara suami diumpamakan sebagai orang yang akan menanam benih, maka datangilah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki. Ayat ini menegaskan bahwa dalam melakukan hubungan intim, gaya apapun boleh dilakukan asal keduanya (suami-isteri) merasa nyaman. Yang dilarang hanya satu, yaitu tidak boleh melakukan hubungan intim lewat dubur sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ahmad dan Ash Habus-Sunan dari Abu Hurairah.

“Terlaknatlah laki-laki yang mendatangi perempuan pada duburnya.”

Memberi Bimbingan pada Keluarga

Suami mempunyai status sebagai pemimpin dalam keluarga, karenanya ia berkewajiban memberi nafkah lahir, batin, dan memberi bimbingan agama kepada istri dan anaknya. Suatu saat nanti seorang suami akan dipertanyakan oleh Allah SWT mengenai keluarganya. Maka dari itu seorang suami wajib membimbing keluarganya dengan baik. Sehingga nanti kelah, keluargalah menjadi suatu amalan bagi seorang suami. Sesungguhnya dengan berkeluarga seorang suami mampu tumbuh menjadi pribadi yang shaleh beserta tuntunan dari Allah SWT.

“Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) atas sebagian yang lain (istri), dan karena mereka (suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (Q.S. An-Nisaa 4: 34)

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Q.S.Thaahaa: 132)

Merupakan sebuah tanggung seorang suami yang baik untuk menafkahi kelaurganya dan mengajarkan keluarganya akidah Islam. Sehingga keturunannya kelak dapat selalu mempertahankan nilai-nilai Islam.

Memperlakukan istri secara baik dan menjaga perasaannya

Rasulullah saw. menilai bahwa suami yang terbaik baik adalah yang paling baik pada istrinya

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu.” (H.R. Tirmidzi)

“…dan bergaullah dengan mereka secara baik…” (Q.S. An-Nisaa :19)

“Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan engkau beri pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau pukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, dan yang lainnya)

Berdasarkan penjelasan di atas kita ketahui bahwa kriteria seorang suami yang shaleh adalah memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuan, memberikan nafkah batin, memberikan bimbingan pada keluarga, dan memperlakukan istri secara baik dan menjaga perasaannya. Semua kriteria tersebut haruslah bersinergi menjadi satu dalam rangka mewujudkan rumah tangga yang skinah mawadah dan warohma. Meskipun sudah sangat sulit menemukan suami yang shaleh tapi optimislah bahwa istri yang shaleh pasti akan dipasangkan Allah dengan suami yang shaleh pula.

%d bloggers like this: