0 Items
+62 823 12 1010 11 [email protected]

“Islam muncul dalam keadaan asing,

dan ia akan kembali dalam keadaan asing,

maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim)

dan ada sahabat yang bertanya tentang orang yang terasing.

Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat baik jika manusia telah rusak.” (HR. Ahmad)

Generasi yang terasing atau lebih familiar disebut sebagai generasi ghuraba adalah orang-orang yang telah Rasulullah janjikan sebagai orang-orang yang beruntung. Rasulullah membawa Islam ke tengah-tengah kafir Quraisy dalam kondisi terasing dan Rasulpun terasing. Terasing yang dimaksud disini adalah sebuah kondisi dimana paling beda sendiri, berbeda pikirannya, berbeda cara pandangnya dan juga berbeda tingkah laku serta sikapnya. Rasulullah datang ketengah-tengah kaum kafir jahiliyah yang sudah memiliki tuhan berupa berhala-hala dan itu sudah menjadi budaya ratusan tahun, ia datang membawa misi baru mengenalkan keesaan tuhan, mengenalkan kalau tuhan itu satu ia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Rasulullah menyampaikan dirinya adalah rasul utusan Allah. Tentu jelas hal ini menerima penolakan oleh kafir-kafir quraisy.

Penolakan, pengasingan dan pengusiran adalah hal-hal pahit yang Rasulullah harus terima ketika menyampaikan risalah islam, dicaci, dimaki dan dianggap gila sudah menjadi santapan sehari-hari. Tapi Rasulullah yakin itu perintah Allah, ia utusan Allah maka ia tetap sampaikan walaupun itu pahit, ia tetap teguh pada pendiriannya, bersabar ketika diuji dengan kesulitan dan tegas menolak ketika ditawarkan kenikmatan. Pemuka Quraisy menawarkan istri, menawarkan harta, menawarkan kekuasaan kepada Rasulullah tapi dengan satu syarat meminta Rasulullah untuk berhenti menyampaikan dakwahnya, tapi apa jawaban Rasulullah ? Rasulullah dengan tegas mengatakan , :

“Demi Allah, andaikan mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan ditangan kiriku, sungguh aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan urusan (agama) ini atau aku mati karenanya.”

Itulah sebuah komitmen, itulah prinsip dari Rasulullah SAW atas apa yang disampaikan, atas apa yang ia dakwahkan.  Menjadi terasing (ghuraba) bukanlah hal yang mudah, bukanlah hal yang ringan tapi menjadi terasing atau ghuraba adalah sesuatu yang berat, harta, keluarga bahkan nyawa sewaktu-waktu bisa menjadi tebusannya.

Ghuraba adalah orang-orang yang melakukan hal luar biasa, diluar kebiasaan “kebanyakan orang”. Generasi ghuraba bukanlah orang biasa, tapi mereka adalah orang-orang luar biasa, mereka adalah generasi extra ordinary . Jumlahnya sangat sedikit tapi pengaruhnya sangat luar biasa terhadap lingkungan. Untuk mengubah masyarakat quraisy yang jahiliyah Allah mengirim seorang extra ordinary nabi Muhammad SAW, Rasulullah menawarkan indahnya Islam di makkah, tapi yang tertarik dan mau bergabung dengan barisan Rasulullah SAW hanya sedikit sekali, yang mau berkomitmen berjuang bersama rasul sangat sedikit, tapi mereka-mereka yang sedikit inilah generasi ghuraba atau bahasa modernnya extra ordinary, bisa ditebak perubahan-perubahan besar, penakhlukan-penakhlukan besar, peradaban-peradaban islam yang begitu besar bahkan bertahan sampai 14 abad di bangun oleh mereka, oleh orang-orang yang sedikit dan terasing.

Diri kita, keluarga kita, bangsa, negara bahkan umat ini jika ingin kembali jaya seperti dahulu kala membutuhkan generasi-generasi yang terasing, generasi-generasi berani beda yang sabar atas cemoohan, dan tak gentar atas segala tantangan yang mereka memiliki komitmen  hebat untuk Islam.

Menjadi generasi Ghuraba memang tak mudah, berat tapi bukan berarti tidak bisa, bukan berarti mustahil. InsyaAllah kita semua bisa menjadi generasi ghuraba, generasi extra ordinary. Apa lagi bagi seorang muslimah, banyak sekali contoh dan teladan muslimah-muslimah hebat yang berjuang dibawah keterasingan, ada siti Asiyah  Istri Fir’aun yang tetap teguh dengan ketaatannya sementara suaminya  kejam,durhaka  bahkan sampai mengakui dirinya tuhan. Ada siti Maryam yang begitu kuat menjaga harga dirinya sampai Allah berikan padanya sebuah “ujian” untuk mengandung nabis Isa As tanpa ayah. Ada siti hajar yang bersabar ketika ditinggal oleh Nabi Ibrahim AS ditengah gurun pasir yang panas, gersang dan tak memiliki kehidupan, Ada bunda Khadijah R.A yang Allah hadiahkan kepada Rasulullah SAW untuk mendampingi perjuangannya, Bunda khadijah berkorban harta ,berkorban tenaga dan waktunya demi dakwah Islam. Dan tentu banyak lagi wanita-wanita terasing yang berjuang dalam keterasingannya.

Satu kesamaan dari wanita-wanita yang “ter-asing” diatas adalah mereka sama-sama memiliki satu visi, satu tujuan dan mereka berkomitmen untuk visi dan tujuan tersebut. Visi mereka hanya satu meraih ridho Allah, berjuang untuk agama Allah bagaimanapun kondisinya. Ayo saudariku semua, mari berbenah diri, perbaiki diri, luruskan niat mari bersama menjadi wanita-wanita yang “terasing” berjuang dalam kesunyian, dalam kesepian tapi yakinlah Allah selalu bersama kita. dari diri sendiri, dari dari hal yang sederhana dan mulai dari saat ini.

Jujur itu ASING karena banyak pembohong.
Sendiri dalam Ketaatan itu ASING karena banyak yang pacaran.
Berhijab itu ASING karena banyak yang telanjang.
Menjaga diri dan memiliki sifar malu itu ASING karena banyak yang tebar pesona diri.
Hijrah dan Taubat itu ASING karena banyak yang betah dengan KEMAKSIATAN.

Semoga anda semua menjadi orang-orang yang terasing dalam kebaikan.

%d bloggers like this: